Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan

07 Maret 2009

Pembesar Turotsi Kuwait bersama Rafidhi

Bismillahirrohmanirrohim.
Assalamuálaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Alhamdulillah álaa kulli haal washsholatu wassalamu álaa rosulillah wa álaa aalihi wa man waalah.
Amma ba'du:

Beberapa pekan yang lalu setelah acara ta'lim di Dewaniyah Syeikh Zaid Ad Dosary di Bayan, Kuwait, seorang ikhwah membawa selembar kertas dan memperlihatkan kepada Asy Syeikh, dan Syeikh Muhammad Al Anjari pun telah melihatnya kemudian, yaitu satu berita besar dari Surat Kabar Al Anba di Kuwait terbitan 1 Januari 2009 tentang acara 'persahabatan' di Dewaniyah seorang anggota Parlemen Kuwait yang merupakan salah satu anggota Ihya At Turots, yaitu Muhammad Al Kandari yang diadakan pada tanggal 31 Desember 2008 malam dalam rangka merespon terjadinya konflik di Gaza akibat serangan Israel ke wilayah itu. Di situ diperlihatkan bahwa "Perhimpunan Salafi" dengan tuan rumah Muhammad Al Kandari bersama Rafidhi dalam satu majelis Nadwah.
Pemberitaan ini benar adanya, tanpa rekayasa dan bukan berita bohong. Sampai hari ini (6 Maret 2009)pun tidak ada bantahan apapun dari At Turots berkenaan berita ini.
Kami lacak di website resmi surat kabar Al Anba, maka inilah buktinya, masih ada sampai sekarang.

Tampak pada gambar atas:
Nomor 1 dari kiri, di bawah gambar tertulis:
Ahmad Laari. Orang ini adalah salah satu anggota Parlemen Kuwait perwakilan SYI'AH. Mayorits Syiáh di Kuwait adalah Rafidhah, Ahmad Laari salah satunya. Dia bukan hanya diundang ke majelis Perhimpunan Salafi itu, tetapi bahkan diberi kesempatan untuk berceramah. Benar-benar mereka mempraktekkan prinsip demokrasi yang mereka anut sehingga orang Syiáh pun sama kedudukannya dengan mereka, karena memang sama-sama "wakil rakyat" di Parlemen Kuwait.
Sedangkan 4 orang berikutnya adalah: Khalid As Sulthan, Dr. Muhammad Al Kandari, Abdul Latif Al Umeiri dan Dr. Ali Al Umeiri ke-4 nya merupakan anggota Parlemen Kuwait perwakilan dari At Turots yang menamakam mereka dengan sebutan PERHIMPUNAN SALAFI.

Sedangkan pada gambar kedua di bawahnya:
Tampak Nadzim Al Misbah, seorang daí senior At Turots Kuwait sedang berbicara sementara di belakangnya sangat jelas ada seorang "sayyid" Syiáh dengan pakaian khasnya yang beda dengan lainnya (lihat no. 3 dari kiri). Kami tidak tahu namanya, tapi bisa dipastikan dia adalah seorang Syiáh dari model pakaiannya. Adapun 2 orang di sebelah kanannya kami tidak tahu apakah mereka itu Sunni atau Syiáh.
Acaranya mirip sekali dengan kebiasaan IM dalam menyikapi krisis di Gaza. Emosional dan berkumpul dengan Rafihdi pun tidak jadi masalah. Padahal mereka masih dengan lantangnya mengaku sebagai "Salafi" seperti tampak pada judul Nadwah "Gaza memanggil Kalian" yang diadakan oleh "Perhimpunan Salafi" ini. Mereka telah menunjukkan sikap "wasathiyah model At Turots."
Wallohul Mustaán.


Benar-benar penyamaran yang sudah ketahuan aslinya.
Maka, ambillah pelajaran! Dengarkan nasehat ulama kita! Tidak ragu lagi bahwa At Turots memang hizbi berkedok Salafi. Inilah salah satu buktinya.

Semoga bisa dijadikan sebagai nasehat bagi semua ikhwah salafi atau saudara kita yang belum tahu kenyataan At Turots Kuwait sekarang, di mana saja berada termasuk di Kuwait sendiri masih banyak yang belum faham.
Semoga Alloh memperbaiki urusan kita. Amin.
Wassalamuálaikum warohmatullohi wabarokatuh.

01 Juli 2008

Perpecahan Umat adalah karena Bid'ah

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah washalatu wassalamu 'ala rasulillah. Amma ba'du:

Berikut ini adalah ta'liq/komentar singkat Syeikh Abu Usman Muhammad Al Anjari hafidzahulloh (murid Syeikh Al Albani) pada Durus Rutin "Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari" Rabu malam Kamis pada tanggal 7 November 2007 di Dewaniyah Syeikh Thariq As Subai'i di Khaldiyah, Kuwait.

Topik Bahasan:

Point ke-90, Imam Al Barbahari rahimahulloh menulis (terjemahan):

Ketahuilah, bahwa Rasululloh shalallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan terpecah umatku menjadi 73 golongan, semuanya di dalam neraka kecuali satu, yaitu Al Jama'ah." Dikatakan: "Ya Rasululloh, siapakah mereka itu?" Beliau menjawab: "Apa-apa yang Aku berada di atasnya pada hari ini dan (juga) para shahabatku." Hadits Shahih dikeluarkan oleh At Tirmidzi no. 2640, Abu Dawud no. 4596, Ibnu Majah no. 3991 dan selainnya dari hadits Abi Hurairah radhiyallohu 'anhu. Dishahihkan oleh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 203, 204, 1492 dan dalam Shahih Al Jaami' no.5343.
Demikianlah agama ini sampai pada kekhalifahan Umar, demikian juga pada zaman Usman. Maka, pada saat Usman dibunuh, datanglah ikhtilaf dan bid'ah serta manusia menjadi berkelompok-kelompok dan mereka terpecah belah. Sebagian manusia ada yang tetap di atas al haq pada awal perubahan tersebut, mereka berkata dengan kebenaran dan menyeru manusia kepadanya dan perkaranya tetap lurus. Sampailah pada tingkatan keempat dari kekhalifahan Bani Fulan, berbaliklah keadaan zaman dan manusia telah berubah dengan dahsyat, tersebarlah kebid'ahan dan telah banyak para da'i/penyeru yang mengajak kepada selain jalan yang lurus dan Al Jama'ah sehingga terjadilah fitnah sampai kepada perkara yang Rasululloh dan para shahabatnya belum pernah berbicara tentang hal itu. Mereka (para da'i itu) menyeru kepada perpecahan sedangkan Rasululloh telah melarang dari perpecahan, mereka saling mengkafirkan antara yang satu dengan lainnya dan setiap da'i mengajak kepada pendapatnya dan mengajak manusia untuk mengkafirkan bagi orang yang menyelisihinya. Orang-orang bodoh dan para pemikir telah diutamakan (ditokohkan) padahal mereka tidak memiliki ilmu, mereka menjadikan manusia tamak dalam perkara dunia dan menakut-nakuti manusia dari siksaan/kesengsaraan dunia, maka makhluk telah menjadikan mereka takut dan berharap pada urusan dunia mereka, maka jadilah As Sunnah dan Ahlus Sunnah tersembunyi/tidak tampak dan tampak serta menyebarlah bid'ah dan mereka telah kafir dari berbagai macam sisi sementara mereka tidak tahu, mereka telah menempatkan qiyas dan mereka membawa kekuasaan Rabb dalam ayat-ayatNya, hukum-hukumNya, perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya berdasarkan akal-akal [dan pemikiran mereka]. Maka apa-apa yang sesuai dengan akal-akalnya mereka menerimanya sedangkan apa-apa yang tidak sesuai dengan akalnya mereka menolaknya. Maka jadilah Al Islam dalam keadaan asing dan As Sunnah juga dalam keadaan asing dan Ahlus Sunnah menjadi  ghuroba (orang-orang yang asing) di tengah-tengah masyarakatnya.

Komentar Syeikh Al Anjari hafidzahulloh:
1. Tanda-tanda akan senantiasa adanya Ahlus Sunnah adalah dengan terjadinya perpecahan umat ini menjadi 73 golongan dan Alloh memelihara Ahli Sunnah dari perpecahan.
2. Ahlus Sunnah menjadi asing, mereka baik keadaannya dan memperbaiki umat disaat kebanyakan Umat Islam dalam keadaan rusak.
3. Perpecahan dalam umat ini adalah karena AL AHWA/BID'AH BUKAN KARENA MAKSIAT seperti zina, minum khamer, dll yang bersifat syahwat, tetapi karena SYUBHAT.
4. Khilaf/beda pendapat antara Ahlus Sunnah dengan kelompok-kelompok seperti Ikhwanul Muslimin, Tabligh dan lain-lain adalah dalam masalah I'TIQAD bukan dalam hal fiqih.
5. Maka wajib bagi kita untuk menelusuri atsar (jejak) shahabat, hal ini menunjukkan sangat pentingnya sanad.
6. Sebagai contoh terasingnya Ahlus Sunnah, lihatlah bagaimana Syeikh Al Albani rahimahulloh, beliau dengan sendirian menegakkan agama ini tanpa mendirikan partai, jum'iyah (perkumpulan), organisasi atau pun daulah (negara). Bahkan beliau adalah seorang a'jami bukan arabi. Telah terbukti, beliaulah salah satu pembawa bendera sunnah (di zaman kita ini, pen).
7. As Sunnah tetaplah sunnah, tak akan berubah. Hal-hal yang wajib pada masa kekhalifahan (pemerintahan) Umar, maka wajib pula pada kekhalifahan sesudahnya; Usman, Ali, Muawiyah, Yazid Bin Abdul Malik, dan seterusnya sampai sekarang seperti masa pemerintahan Shabah Al Ahmad (Amir Kuwait saat ini, pen).
8. Sunni adalah satu jama'ah bukan jama'aat (banyak jama'ah), satu hizb (golongan) bukan ahzaab (bergolong-golongan). Ahlus Sunnah tidaklah digolong-golongkan berdasarkan daerah atau wilayah seperti kebiasaan At Turots (di Kuwait) yang membagi-bagi syabaab (pemuda) dengan daerah di mana dia tinggal seperti: Syabaab Faiha, Khaldiyah, dll yang menjadi kebiasaan cara dakwah Abdur Rahman Abdul Khaliq, seperti kalau berjumpa dengan seseorang yang belum dikenal maka akan ditanyakan: "Kamu berasal dari syabaab daerah mana?" (Karena memang At Turots memiliki cabang hampir di semua wilayah/blok di Kuwait ini dan ada penanggung jawabnya baik yang jelas diketahui maupun yang rahasia, pen).
9. Umat Islam celaka/binasa karena Kitab, yakni menafsirkan Al Qur'an tidak dengan semestinya dan Laban (susu), yaitu disibukkan dengan urusan duniawi sampai melupakan agamanya. Umat Islam binasa bukan karena orang kafir (sebagaimana sangkaan kebanyakan orang, pen). Ingatlah hadits Nabi saat berdoa kepada Alloh agar jangan sampai umatnya dibinasakan karena masa paceklik (bisanatin aammatin) dan agar jangan sampai umatnya dikuasai oleh selain dari diri-diri mereka (kalangan muslimin sendiri) dan doa beliau ini Alloh kabulkan.
Jadi, kerusakan yang ada dalam Umat Islam adalah karena Umat Islam itu sendiri, bukan dari luar. Adapun manhaj khalaf, mereka menyangka bahwa kebinasaan Umat Islam ini adalah karena kedzaliman penguasa atau karena orang kafir seperti Yahudi, Amerika, Inggris, dll.
Manhaj akallah yang dibawa oleh kelompok-kelompok khalaf seperti Abdur Rahman Abdul Khaliq, dia mengatakan bahwa agar dapat merubah keadaan/amar ma'ruf nahi mungkar maka haruslah melalui partai, organisasi, jama'ah-jama'ah atau perkumpulan-perkumpulan yang semisalnya sehingga nanti tujuan akhirnya sampailah pada kekuasaan/kekhalifahan.
(Hal inilah yang mereka tempuh, diantara bukti nyata adalah sering ikut sertanya beberapa anggota At Turots pada Pemilu Parlemen/Majelis Ummah Kuwait dan pada pertengahan Mei 2008 ini mereka telah 'berhasil' memasukkan 4 orang anggotanya. Bandingkan dengan apa yang telah para ulama salaf dan Syeikh Al Albani tempuh! pen).
10. Ahlus Sunnah senantiasa memprioritaskan tauhid (tauhid awalan) karena inilah asas Islam. Tauhidlah yang akan menyelamatkan manusia dari kekalnya adzab neraka. Maka, betapa sangat pentingnya memiliki akidah yang benar.
Wallohu Ta'ala a'lam. (Abu Shofiyah)

10 Juni 2008

Menggugat Demokrasi - Daftar Isi



Risalah lengkap tentang demokrasi, silahkan klik disini!

06 Juni 2008

Wahai Aktivis Unjuk Rasa dan Para Demonstran Muslim, Dikemanakan Hadits-Hadits ini ? Dikemanakan ?!


Oleh Al Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin
Sungguh tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang kepada orang beriman selain Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Penderitaan orang-orang beriman adalah penderitaannya. Bahkan kesusahan orang-orang beriman ia rasakan lebih perih, seakan ia pusat saraf paling peka dari sebuah tubuh.
Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih bersungguh-sungguh ingin memberikan petunjuk dan bimbingan serta ingin memberikan jalan keluar terbaik bagi orang-orang beriman, selain Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Keselamatan dan kebahagiaan orang-orang beriman adalah kebahagiaannya.
Tak ada manusia di muka bumi ini yang lebih sayang dan tulus kepada orang-orang beriman selain Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Apa yang ia beri tak pernah ia harap kembali. Dialah yang tak pernah menjual nasihat demi sekedar mereguk ni’mat, syahwat atau pangkat, juga tidak pernah gila hormat.
Sungguh pribadi agung ini telah ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA gambarkan akan sifatnya (yang artinya): Telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat baginya penderitaanmu, sangat mengingingkan –keimanan dan keselamatan- atas kalian, dan amat penuh belas kasih sayang terhadap orang-orang beriman. (At-Taubah: 128)
Ya, dialah orang paling jujur nan amanah serta tulus menasihati ummah. Lisannya terjaga penuh, bukan mengikuti hawa nafsu melainkan di bawah bimbingan wahyu. Dan sebagaimana yakinnya kita akan kelengkapan dan kesempurnaan Islam, yakin pula kita akan lengkap dan sempurnanya bimbingan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.
Dan tentu saja bimbingan itu -melalui nasihatnya- meliputi ragam macam masalah yang bakal kita hadapi, sepanjang masa..Dalam urusan diri, keluarga, atau masyarakat. Yang bahkan sahabatnyapun –Abu Dzar- bersaksi: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kami. Dan tidaklah burung yang terbang di udara dengan kedua sayapnya kecuali telah sampai kepada kami ilmu tentangnya.
Lebih dari itu. Amalan dan perkara yang dapat mendekatkan kita ke surga dan menyelamatkan kita dari neraka pun telah dia jelaskan !
“Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian.”
Di dalam kehidupan masyarakat, di sana ada pihak yang mengatur, ada pula yang diatur. Islam bukan hanya membimbing para pengatur, bagaimana cara mengatur orang banyak. Islam juga membimbing pihak yang diatur, bagaimana cara bertutur kepada pengatur.
Ya, kekasih ALLAH yang paling mengerti urusan umatnya dan paling sayang kepada mereka menasihati dan membimbing agar mereka menyadari, bahwa para pengatur mereka itu juga manusia yang tak luput dari kekeliruan atau kesalahan. Karena itu mereka harus saling menasihati.
Barangsiapa memiliki nasihat bagi penguasa, hendaknya tidak ia sampaikan secara terang-terangan. Pegang tangannya dan bicarakan berdua. Seandainya penguasa itu mau menerima, itulah yang diharapkan. Jika tidak, yang menasihati itu telah menunaikan kewajibannya, sedang penguasa itu bertanggung jawab atas kewajibannya. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim :As-Sunnah , Al Baihaqi: As-Sunnan Al Kubro, Al Hakim: Al Mustadrak, dan Ahmad: Al Musnad)
Ya, menasihati penguasa bukan dengan cara membuat orasi-orasi di mimbar-mimbar bebas, yang kata mereka -dengan gagahnya-: “Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang jahat.”
Hendaknya mereka memperhatikan betul kata “di hadapan penguasa”, yakni hendaknya –sejalan dengan hadits di atas- menyampaikan nasihat itu tidak di hadapan orang banyak.
Bagaimana akan menerima nasihat, jika telah lebih dahulu dipermalukan, dibeberkan aib, dan dilukai hatinya. Membeberkan kesalahan dengan cara semacam ini justru akan membuat mereka semakin sulit menerima nasihat. Ingatlah pesan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: Jangan kalian bantu syaithan menguasai saudaramu.
Ya, gara-gara salah di dalam cara menasihati, hasilnya bahkan semakin parah. Syaithan semakin kuat memeluk dan menguasainya. Tidak sedikit datangnya kebrutalan kaki tangan penguasa justru diundang oleh cara-cara mereka yang -katanya- ingin menasihati penguasa. Ya, keadaan semacam di atas, sungguh sangat mungkin terjadi disebabkan ulah penasihat yang tidak hikmah. Memaksakan kehendak agar semua nasihat didengar, diterima, dan dijalankan saat itu juga. Apalagi jika telah terang-terangan melanggar rambu-rambu nasihat.
Kita lupa mungkin, masing-masing kita -ketika ingin mengubah kemungkaran- harus tetap berada di atas posisi yang benar. Keluar dari posisi berarti juga telah berbuat kemungkaran. Bagaimana mungkin kemungkaran bisa diubah dengan cara yang juga mungkar?
Para penguasa mengubah kemungkaran dengan kekuasaan dan kekuatannya, di situlah posisinya. Para ulama, da’i, atau guru mengubah kemungkaran lewat nasihat-nasihatnya, di situlah posisinya. Orang awam semacam kita, yang tidak berilmu juga tak memiliki kekuasaan mengubah kemungkaran dengan hati, berupa do’a dan pengingkaran hati, di situlah posisinya. Inilah yang dimaksud dari sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya): Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaknya ia ubah dengan tangannya. Jika tak sanggup, dengan lisannya. Jika tak anggup, dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman. (HR: Muslim dari Abi Sa’id Al Khudri)
Dan hendaknya kita sadar, bahwa syaithan menggoda siapa saja. Ahli ma’shiyat digoda, sehingga semakin tenggelam di dalam kema’shiyatannya. Ahli ibadah juga digoda, sehingga semakin tenggelam di dalam keasyikan beribadah yang bercampur dengan kesyirikan dan kebid’ahan, tanpa mereka sadari. Mereka yang ber-amar ma’ruf dan nahi mungkar juga tak luput dari godaannya. Digoda dengan semangat dan sikap berlebih-lebihan sehingga keluar dari posisinya. Manakala telah keluar dari posisi serta mengambil yang bukan porsinya, tinggalah menunggu saatnya mereka terjerumus ke dalam sikap selalu beroposisi kepada penguasa, yang berujung kepada pengkafiran dan pemberontakan. Dan bukan ini yang dikehendaki dari mencegah kemungkaran.
Betul, kita diperintahkan untuk mencegah kemungkaran: Dari Anas bi Malik, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, berkata,”Tolonglah saudaramu yang berbuat dzalim dan yang didzalimi.” Beliau ditanya,” Ya, Rasulullah. Kami mengerti tentang menolong yang didzalimi. Akan tetapi, bagaimana cara menolong yang berbuat dzalim?” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Cegahlah dia dari perbuatan dzalim tersebut. Demikianlah cara kalian menolong mereka.” (HR: Al Bukhari / At-Tirmidzi. Dan ini lafadz At-Tirmidzi)
Namun, ketika orang yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang kepada mereka ini mengungkapkan kata “cegah” dengan “tolong” , itu artinya perbuatan tersebut haruslah dilandasi kasih sayang, bukan kebencian!!!
Ya, orang yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang kepada mereka ini telah menasihati kita agar tulus dan tidak berjual-beli di dalam nasihat: Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya kelak akan kalian dapati penguasa yang hanya mementingkan dirinya.” Para sahabat bertanya:”Apa yang harus kami perbuat (-jika mendapati hal itu-), wahai Rasulullah?” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab:” Tunaikan kewajiban kalian kepada mereka, dan mintalah hak-hak kalian kepada ALLAH!” (HR: Al Bukhari)
Ya, kekasih ALLAH yang paling mengerti urusan umatnya dan paling sayang kepada mereka menasihati dan membimbing agar mereka senatiasa ta’at kepada orang-orang yang diserahi tanggung jawab mengurus umat, tanpa pamrih dan tawar-menawar keta’atan, selama bukan dalam urusan ma’shiyat. Beliau tidak mengajari kita mengatakan: Kami ta’ati kalian kalau kalian memenuhi tuntutan kami. Bahkan meskipun orang-orang tersebut memakan harta atau memukul punggung mereka.
Dari Ubadah bin Shaamit, berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memanggil kami, maka kamipun berbai’at dan ia mengambil janji dari kami untuk mendengar dan ta’at dalam senang atau terpaksa, dalam kelapangan atau kesempitan. Dan tidak mencabut ketaatan. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: "Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang menjadi bukti bagimu di hadapan ALLAH." (HR: Al Bukhari)
Pada riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban ada tambahan: "Meskipun mereka memakan hartamu dan memukuli punggungmu."
Perhatikanlah, wahai orang yang mengaku pengikut Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam (Meskipun mereka memakan hartamu dan memukuli punggungmu) !!!. Jangan lupa, bahwa yang mengatakan ini adalah yang tidak berkata-kata kecuali di bawah bimbingan wahyu.
Begitu pula, ketika umat ditimpa paceklik, barang langka harga melambung, sebagaimana kejadian semacam ini -di mana saja dan kapan saja- dijadikan momentum untuk “menyadarkan” umat akan haknya, Sang Kekasih ALLAH ini justru mengingatkan kita untuk kembali kepada ALLAH: Dari Anas bin Malik, ia berkata: Pernah di zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam harga-harga melambung. Maka para sahabat berkata,”Ya Rasulullah, turunkan harga!” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,” Sesungguhnya ALLAH-lah yang menetapkan harga. Dia-lah yang Menaikkan, Menurunkan, dan Memberi Rezeki. Sungguh aku berharap dapat berjumpa dengan rabb-ku dalam keadaan tak seorangpun di antara kalian menuntutku karena ketidakadilanku dalam urusan darah dan harta.” (HR: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Beliau tidak pernah menyuruh umatnya -apalagi kaum ibu- untuk turun ke jalan membawa alat dapur, memukul-mukulnya agar riuh kedengarannya, menarik perhatian orang banyak seraya berteriak-teriak menuntut turunnya harga Sebagian lagi bertindak anarkis asyik bermain-main dengan api di jalan tempat orang berlalu lalang, membikin semua orang kegerahan karena macet. Sungguh sulit untuk percaya bahwa mereka sedang membela nasib orang-orang susah. Ya, pribadi yang paling mengerti urusan umat dan paling sayang kepada mereka tak pernah mengajari kita melakukan tindakan sia-sia -yang merendahkan martabat- semacam ini!!!
Akankah kita katakan bahwa Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mengerti penderitaan umatnya? Alangkah kejamnya Beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, membiarkan umatnya didzalimi ??? Apakah para provokator -yang senantiasa memanas-manasi umat ini- lebih tulus nasihatnya dan lebih arif pertimbangannya dibanding Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam ?
Tentu saja, sangat dimaklumi, bahwa nasihat-nasihat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di atas sangat tidak menguntungkan bagi mereka yang suka menjadikan kedzaliman penguasa sebagai komoditi politik. Dan sungguh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengajari kita demikian, menjual nasihat demi syahwat atau pangkat. Maka tidak ada tempat untuk bertanya: “Bagaimana jika pemerintah tidak mau menerima nasihat dan teguran kita?” Juga tak ada tempat untuk mencurigai ulama, bahwa mereka tidak pernah menasihati penguasa. Apa dasar kecurigaan ini dan dari mana mereka tahu bahwa para ulama diam saja melihat kemungkaran? Apakah para ulama, da’i, ustadz-ustadz itu harus melaporkan kepada masyarakat bahwa mereka telah berkata ini dan itu kepada penguasa ???
Merekalah yang lebih layak untuk dicurigai -kalau memang boleh kita berburuk sangka kepada mereka- ketimbang para ulama. Mereka yang sering -di atas mimbar- menasihati orang banyak dengan kemasan agama. Ya, cukup kepada mereka, dan kita tak punya urusan kepada yang jahil, yang hanya jadi kaki tangan, operator lapangan yang tak mengerti sedikitpun agama ini. Tanyakan kepada mereka,: "Mengapa kalian -yang mengaku tahu dan peduli terhadap urusan umat- tak pernah menyampaikan hadits-hadits di atas? Dikemanakan hadits-hadits ini? Dikemanakan?"

Buletin Jum’at Risalah Tauhid -Depok- edisi 81
Judul Asli: Dikemanakan Hadits-Hadits Ini?
Sumber:www.mimbarislami.or.id































20 Mei 2008

Menggugat Demokrasi (2) - Unsur Demokrasi



Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam

Demokrasi sendiri memiliki tiga unsur yaitu :

1. At Tasyri’ (Legislatif)
Tidak ada yang berhak menetapkan peraturan kecuali demokrasi. Padahal Allah-lah Ahkamul Hakimin (Hakim Yang Seadil-adilnya) dan Arhamur Rahimin (Yang Maha Penyayang) yang bagi-Nya seluruh kekuasaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dalam demokrasi, hukum-hukum-Nya tidak lagi berlaku. Dia tidak boleh membuat peraturan bagi hamba-hamba-Nya. Membuat peraturan adalah ujung tombak dari undang-undang. Karena itulah dibuat peraturan demi melestarikan demokrasi.

2. Al Qadha’ (Yudikatif)
Tidak diperkenankan bagi seorang penguasa pun untuk memutuskan sesuatu kecuali berdasarkan undang-undang. Kalau tidak maka dia akan terkena hukuman. Sebagaimana tertera pada pasal 147 undang-undang dasar negeri Yaman :
“Memberi keputusan adalah kekuasaan tersendiri baik di dalam masalah hukum, harta kekayaan maupun administrasi. Dan pengadilan diberi kemerdekaan untuk memberi keputusan hukum dalam seluruh perkara perdata dan pidana. Para hakim adalah independen, tidak ada atasan bagi mereka dalam menjatuhkan vonis kecuali undang-undang.”
Renungkanlah kata-kata “tidak ada atasan bagi mereka dalam menjatuhkan vonis kecuali undang-undang”.

3. At Tanfidz (Eksekutif)
Tidak boleh melaksanakan satu keputusan pun kecuali yang berasal dari undang- undang. Itu berarti membekukan seluruh aturan-aturan syari’ah dan kepada Allah- lah tempat mengadukan segala urusan. Lihatlah pada pasal 104 yang berbunyi :
“Yang menjadi pelaksana kekuasaan sebagai ganti dari rakyat adalah presiden dan kementerian sesuai garis-garis yang telah ditentukan di dalam undang-undang.”

Apabila kita telah mengetahui bahwa demokrasi merupakan sistem hidup menurut kacamata pembuat dan pembelanya maka yakinlah kita bahwa ia tidak hendak lengser dan berubah. Demokrasi adalah sistem sosial politik internasional yang disokong dan disepakati oleh negara-negara besar. Demokrasi adalah sistem dan pandangan hidup global. Tidak ada halangan bagi kelompok pro-demokrasi untuk mengubah satu bagian atau satu kata saja dari pasal tersebut demi kepentingan demokrasi itu sendiri. Namun itu dilakukan bukan untuk meruntuhkannya seperti kenyataan yang kita saksikan sekarang.

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf : 21)

(Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)
Via http://ulamasunnah.wordpress.com

16 Mei 2008

Menggugat Demokrasi (1) - Definisi Demokrasi



Oleh: Asy Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Imam

Definisi Demokrasi
Abdul Ghani Ar Rahhal di dalam bukunya, Al Islamiyyun wa Sarah Ad Dimuqrathiyyah mendefinisikan demokrasi sebagai “kekuasaan rakyat oleh rakyat”. Rakyat adalah sumber kekuasaan.
Ia juga menyebutkan bahwa orang yang pertama kali mengungkap teori demokrasi adalah Plato. Menurut Plato, sumber kekuasaan adalah keinginan yang satu bukan majemuk. Definisi ini juga yang dikatakan oleh Muhammad Quthb dalam bukunya Madzahib Fikriyyah Mu’ashirah. Dan juga oleh penulis buku Ad Dimuqrathiyyah fi Al Islam serta yang lainnya.

Perkembangan Demokrasi
Revolusi Prancis tercetus dengan semboyannya yang terkenal “kebebasan, persaudaraan, dan persamaan .” Prancis memasukkan demokrasi ke dalam undang- undang dasarnya di bawah judul Hak-Hak Asasi Manusia pada pasal ketiga :
“Rakyat adalah sumber dan gudang kekuasaan. Setiap lembaga atau individu yang memegang kekuasaan tidak lain mengambil kekuasaan dari rakyat.”
Pasal ini dimasukkan kembali pada undang-undang dasar tahun 1791 M. Di situ disebutkan bahwa tahta kepemimpinan adalah milik rakyat. Sistem ini tidak mengakui model pembagian kekuasaan, pengunduran diri ataupun meraih kekuasaan dengan cara kudeta.

Kemudian paham demokrasi inipun dicantumkan di dalam undang-undang dasar sebagian negara Arab dan Islam. Sebagai contoh di Mesir ditetapkan di dalam undang-undang kesatu tahun 1923 serta 1956. Dan pada tahun 1971 di dalam undang-undang tersebut terdapat teks yang menyebutkan antara lain bahwa :
“Kepemimpinan adalah milik rakyat dan rakyat adalah sumber kekuasaan menurut cara yang dijelaskan di dalam undang-undang.”
Pasal ini terdapat pada undang-undang nyaris semua negara Arab dan Islam. Pasal semacam ini juga termaktub di dalam undang-undang Yaman, negara kami. Pada pasal empat misalnya disebutkan :
“Rakyat adalah pemilik dan sumber kekuasaan. Kekuasaan itu bisa diperoleh secara langsung dengan cara referendum atau lewat pemilihan umum demikian pula mencabut kekuasaan itu dapat dilakukan secara tidak langsung melalui lembaga legislatif, yudikatif, dan eksekutif serta melalui majelis-majelis perwakilan yang dipilih.”

Dari sini dapat diketahui bahwa demokrasi adalah “Rabb” yang berhak menetapkan syariat.
Maka tidak samar bagi seorang Muslim bahwa ini adalah perbuatan kufur akbar, syirik akbar, dan kezaliman yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengisahkan perkataan Luqman Al Hakim :
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13)

Syirik apalagi yang lebih besar daripada meniadakan peribadatan kepada Allah?

(Judul asli: Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat, Penerbit Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate. Sumber: www.assunnah.cjb.net)
Via http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/05/13/menggugat-demokrasi-definisi-demokrasi/#more-
274