Bismillahirrohmanirrohim.
Assalamuálaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Alhamdulillah álaa kulli haal washsholatu wassalamu álaa rosulillah wa álaa aalihi wa man waalah.
Amma ba'du:
Beberapa pekan yang lalu setelah acara ta'lim di Dewaniyah Syeikh Zaid Ad Dosary di Bayan, Kuwait, seorang ikhwah membawa selembar kertas dan memperlihatkan kepada Asy Syeikh, dan Syeikh Muhammad Al Anjari pun telah melihatnya kemudian, yaitu satu berita besar dari Surat Kabar Al Anba di Kuwait terbitan 1 Januari 2009 tentang acara 'persahabatan' di Dewaniyah seorang anggota Parlemen Kuwait yang merupakan salah satu anggota Ihya At Turots, yaitu Muhammad Al Kandari yang diadakan pada tanggal 31 Desember 2008 malam dalam rangka merespon terjadinya konflik di Gaza akibat serangan Israel ke wilayah itu. Di situ diperlihatkan bahwa "Perhimpunan Salafi" dengan tuan rumah Muhammad Al Kandari bersama Rafidhi dalam satu majelis Nadwah.
Pemberitaan ini benar adanya, tanpa rekayasa dan bukan berita bohong. Sampai hari ini (6 Maret 2009)pun tidak ada bantahan apapun dari At Turots berkenaan berita ini.
Kami lacak di website resmi surat kabar Al Anba, maka inilah buktinya, masih ada sampai sekarang.
Tampak pada gambar atas:
Nomor 1 dari kiri, di bawah gambar tertulis:
Ahmad Laari. Orang ini adalah salah satu anggota Parlemen Kuwait perwakilan SYI'AH. Mayorits Syiáh di Kuwait adalah Rafidhah, Ahmad Laari salah satunya. Dia bukan hanya diundang ke majelis Perhimpunan Salafi itu, tetapi bahkan diberi kesempatan untuk berceramah. Benar-benar mereka mempraktekkan prinsip demokrasi yang mereka anut sehingga orang Syiáh pun sama kedudukannya dengan mereka, karena memang sama-sama "wakil rakyat" di Parlemen Kuwait.
Sedangkan 4 orang berikutnya adalah: Khalid As Sulthan, Dr. Muhammad Al Kandari, Abdul Latif Al Umeiri dan Dr. Ali Al Umeiri ke-4 nya merupakan anggota Parlemen Kuwait perwakilan dari At Turots yang menamakam mereka dengan sebutan PERHIMPUNAN SALAFI.
Sedangkan pada gambar kedua di bawahnya:
Tampak Nadzim Al Misbah, seorang daí senior At Turots Kuwait sedang berbicara sementara di belakangnya sangat jelas ada seorang "sayyid" Syiáh dengan pakaian khasnya yang beda dengan lainnya (lihat no. 3 dari kiri). Kami tidak tahu namanya, tapi bisa dipastikan dia adalah seorang Syiáh dari model pakaiannya. Adapun 2 orang di sebelah kanannya kami tidak tahu apakah mereka itu Sunni atau Syiáh.
Acaranya mirip sekali dengan kebiasaan IM dalam menyikapi krisis di Gaza. Emosional dan berkumpul dengan Rafihdi pun tidak jadi masalah. Padahal mereka masih dengan lantangnya mengaku sebagai "Salafi" seperti tampak pada judul Nadwah "Gaza memanggil Kalian" yang diadakan oleh "Perhimpunan Salafi" ini. Mereka telah menunjukkan sikap "wasathiyah model At Turots."
Wallohul Mustaán.
Benar-benar penyamaran yang sudah ketahuan aslinya.
Maka, ambillah pelajaran! Dengarkan nasehat ulama kita! Tidak ragu lagi bahwa At Turots memang hizbi berkedok Salafi. Inilah salah satu buktinya.
Semoga bisa dijadikan sebagai nasehat bagi semua ikhwah salafi atau saudara kita yang belum tahu kenyataan At Turots Kuwait sekarang, di mana saja berada termasuk di Kuwait sendiri masih banyak yang belum faham.
Semoga Alloh memperbaiki urusan kita. Amin.
Wassalamuálaikum warohmatullohi wabarokatuh.
07 Maret 2009
Pembesar Turotsi Kuwait bersama Rafidhi
27 Februari 2009
Bukti: Hamas adalah IM
Bismillahirrahmanirrahim
Dalam video ini adalah penegasan kembali bahwa Hamas masih memberikan bai'atnya kepada IM dengan sangat jelas.
Perhatikanlah bagaimana cara mereka berbai'at!!!
1. Dengan mengangkat tangan seperti itukah?
2. Berpegang teguh dengan Da'wah Ikhwanul Muslimin? Kenapa tidak dengan Al Kitab dan As Sunnah Ash Shohihah?
3. Wal Jihad fiisabiiliha? (Dan Jihad di atas jalan IM?) Kenapa tidak fii sabilillah?
http://www.youtube.com/watch?v=VngBC9yxaac
وقبل أن يتقدَّم إسماعيل هنية بإلقاء كلمته تقدَّم الشيخ أبو أسامة دخان (عبد الفتاح دخان أحد مؤسسي حماس) وطلب من الجماهير رفع سواعدهم اليمنى إلى أعلى وأقسم- وهم من ورائه- القسم المشفوع باسم الله ولاءً لحركة الإخوان المسلمين (أعاهد الله العلي العظيم علي التمسك بدعوة الإخوان المسلمين والجهاد في سبيلها والقيام بشروط عضويتها والثقة التامة بقيادتها والسمع والطاعة في المنشط والمكره و أشهد الله علي ذلك وأبايع عليه والله علي ما أقوله وكيل).
Wallohul Musta'an
26 Januari 2009
Sikap dan Kewajiban Umat Islam terhadap Tragedi Palestina
Berikut penjelasan yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah ketika beliau menjawab pertanyaan tentang apa sikap dan kewajiban kita terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Ghaza - Palestina. Penjelasan ini beliau sampaikan pada hari Senin 9 Muharram 1430 H dalam salah satu pelajaran yang beliau sampaikan, yaitu pelajaran syarh kitab Fadhlul Islam. Semoga bermanfaat.
%%##%%
Kewajiban terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita kaum muslimin di Jalur Ghaza Palestina baru-baru ini adalah sebagai berikut :
Pertama :
Merasakan besarnya nilai kehormatan darah (jiwa) seorang muslim. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah (no. 3932) dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar berkata : Saya melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sedang berthawaf di Ka’bah seraya beliau berkata (kepada Ka’bah) :
مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ حُرْمَةً مِنْكِ مَالِهِ وَدَمِهِ
“Betapa bagusnya engkau (wahai Ka’bah), betapa wangi aromamu, betapa besar nilaimu dan besar kehormatanmu. Namun, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh lebih besar di sisi Allah dibanding engkau, baik kehormatan harta maupun darah (jiwa)nya.” [1])
Dalam riwayat At-Tirmidzi (no. 2032) dengan lafazh :
Dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallah ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar kemudian beliau berseru dengan suara yang sangat keras seraya berkata :
« يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ! لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ! وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ! وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ! فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ »
“Wahai segenap orang-orang yang berislam dengan ucapan lisannya namun keimanannya tidak menyentuh qalbunya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya muslim, maka pasti Allah akan terus mengikuti aibnya. Barangsiapa yang diikuti oleh Allah segala aibnya, maka pasti Allah akan membongkarnya walaupun dia (bersembunyi) di tengah rumahnya.”
Maka suatu ketika Ibnu ‘Umar Radhiyallah ‘anhuma melihat kepada Ka’bah dengan mengatakan (kepada Ka’bah) : “Betapa besar kedudukanmu dan betapa besar kehormatanmu, namun seorang mukmin lebih besar kehormatannya di sisi Allah dibanding kamu.”
Al-Imam At-Tirmidzi berkata tentang kedudukan hadits tersebut : “Hadits yang hasan gharib.” Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (no. 2032).
Seorang muslim apabila melihat darah kaum muslimin ditumpahkan, atau jiwa dibunuh, atau hati kaum muslimin diteror, maka tidak diragukan lagi pasti dia akan menjadikan ini sebagai perkara besar, karena terhormatnya darah kaum muslimin dan besarnya hak mereka.
Bagaimana menurutmu, kalau seandainya seorang muslim melihat ada orang yang hendak menghancurkan Ka’bah, ingin merobohkan dan mempermainkannya, maka betapa ia menjadikan hal ini sebagai perkara besar?!! Sementara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan bahwa “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh lebih besar di sisi Allah dibanding engkau (wahai Ka’bah), baik kehormatan harta maupun darah (jiwa)nya.”
Maka perkara pertama yang wajib atas kita adalah merasakan betapa besar nilai kehormatan darah kaum mukminin yang bersih, yang baik, dan sebagai pengikut sunnah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, yang senantiasa berjalan di atas bimbingan Islam. Kita katakan, bahwa darah (kaum mukminin) tersebut memiliki kehormatan yang besar dalam hati kita.
Kita tidak ridha -demi Allah- dengan ditumpahkannya darah seorang mukmin pun (apalagi lebih), walaupun setetes darah saja, tanpa alasan yang haq (dibenarkan oleh syari’at). Maka bagaimana dengan kebengisan dan peristiwa yang dilakukan oleh para ekstrimis, orang-orang yang zhalim, para penjajah negeri yang suci, bumi yang suci dan sekitarnya??! Innalillah wa inna ilaihi raji’un!!
Maka tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak peduli dengan darah (kaum mukminin) tersebut, terkait dengan hak dan kehormatan (darah mukminin), kehormatan negeri tersebut, dan kehormatan setiap muslim di seluruh dunia, dari kezhaliman tangan orang kafir yang penuh dosa, durhaka, dan penuh kezhaliman seperti peristiwa (yang terjadi sekarang di Palestina) walaupun kezhaliman yang lebih ringan dari itu.
Kedua :
Wajib atas kita membela saudara-saudara kita. Pembelaan kita tersebut harus dilakukan dengan cara yang syar’i. Cara yang syar’i itu tersimpulkan sebagai berikut :
- Kita membela mereka dengan cara do’a untuk mereka. Kita do’akan mereka pada waktu sepertiga malam terakhir, kita do’akan mereka dalam sujud-sujud (kita), bahkan kita do’akan dalam qunut (nazilah) yang dilakukan pada waktu shalat jika memang diizinkan/diperintahkan oleh waliyyul amr (pemerintah).
Jangan heran dengan pernyataanku “dalam qunut nazilah yang dilakukan dalam shalat jika memang diizinkan/diperintahkan oleh waliyyul amr.” Karena umat Islam telah melalui berbagai musibah yang dahsyat pada zaman shahabat Nabi, namun tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa para shahabat melakukan qunut nazilah selama mereka tidak diperintah oleh pimpinan (kaum muslimin).
Oleh karena itu aku katakan : Kita membantu saudara-saudara kita dengan do’a pada waktu-waktu sepertiga malam terakhir, kita bantu saudara-saudara kita dengan do’a dalam sujud, kita membantu saudara-saudara kita dengan do’a saat-saat kita berdzikir dan menghadap Allah agar Allah menolong kaum muslimin yang lemah.
…..
Semoga Allah membebaskan kaum muslimin dari cengkraman tangan-tangan zhalim, dan mengokohkan mereka (kaum muslimin) dengan ucapan (aqidah) yang haq, serta menolong mereka terhadap musuh kita, musuh mereka, musuh Allah, dan musuh kaum mukminin.
Ketiga dan Keempat, terkait dengan sikap kita terhadap peristiwa Ghaza :
Kita harus waspada terhadap orang-orang yang memancing di air keruh, menyeru dengan seruan-seruan yang penuh emosional atau seruan yang ditegakkan di atas perasaan (jauh dari bimbingan ilmu dan sikap ilmiah), yang justru membuat kita terjatuh pada masalah yang makin besar.
Kalian tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berada di Makkah, berada dalam periode Makkah, ketika itu beliau mengetahui bahwa orang-orang kafir terus menimpakan siksaan yang keras terhadap kaum muslimin. Sampai-sampai kaum muslimin ketika itu meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam agar menginzinkan mereka berperang. Ternyata Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanya mengizinkan sebagian mereka untuk berhijrah (meninggalkan tanah suci Makkah menuju ke negeri Habasyah), namun sebagian lainnya (tidak beliau izinkan) sehingga mereka terus minta izin dari Rasulullah untuk berperang dan berjihad.
Dari shahabat Khabbab bin Al-Arat Radhiyallahu ‘anhu :
شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ : أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلا تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ”
Kami mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau sedang berbantalkan burdahnya di bawah Ka’bah –di mana saat itu kami telah mendapatkan siksaan dari kaum musyrikin–. Kami berkata kepada beliau : “Wahai Rasulullah, mintakanlah pertolongan (dari Allah) untuk kama? berdo’alah (wahai Rasulullah) kepada Allah untuk kami?”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam [2]) : “Bahwa dulu seseorang dari kalangan umat sebelum kalian, ada yang digalikan lubang untuknya kemudian ia dimasukkan ke lubang tersebut. Ada juga yang didatangkan padanya gergaji, kemudian gergaji tersebut diletakkan di atas kepalanya lalu ia digergaji sehingga badannya terbelah jadi dua, akan tetapi perlakuan itu tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi, sehingga berpisahlah tulang dan dagingnya, akan tetapi perlakuan itu pun tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan urusan ini (Islam), hingga (akan ada) seorang pengendara yang berjalan menempuh perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah atau (dia hanya khawatir terhadap) srigala (yang akan menerkam) kambingnya. Akan tetapi kalian tergesa-gesa.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3612, 3852, 6941).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terus berada dalam kondisi ini dalam periode Makkah selama 13 tahun. Ketika beliau berada di Madinah, setelah berjalan selama 2 tahun turunlah ayat :
﴿أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ﴾ (الحج: 39 )
Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi karena mereka telah dizhalimi. Sesungguhnya Allah untuk menolong mereka adalah sangat mampu.” [Al-Haj : 39]
Maka ini merupakan izin bagi mereka untuk berperang.
Kemudian setelah itu turun lagi ayat :
﴿وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾ ( البقرة:190)
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Baqarah : 190]
Kemudian setelah itu turun ayat :
﴿فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ﴾ (التوبة: من الآية12)
Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti. [At-Taubah : 12]
﴿قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ﴾ (التوبة: من الآية29)
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada Hari Akhir” [At-Taubah : 29]
Yakni bisa kita katakan, bahwa perintah langsung untuk berjihad turun setelah 16 atau 17 tahun berlalunya awal risalah. Jika masa dakwah Rasulullah adalah 23 tahun, berarti 17 tahun adalah perintah untuk bersabar. Maka kenapa kita sekarang terburu-buru??!
Kalau ada yang mengatakan : Ya Akhi, mereka (Yahudi) telah mengepung kita! Ya Akhi mereka (Yahudi) telah menzhalimi kita di Ghaza!!
Maka jawabannya : Bersabarlah, janganlah kalian terburu-buru dan janganlah kalian malah memperumit masalah. Janganlah kalian mengalihkan permasalahan dari kewajiban bersabar dan menahan diri kepada sikap perlawanan ditumpahkan padanya darah (kaum muslimin).
Wahai saudara-saudaraku, hingga pada jam berangkatnya aku untuk mengajar jumlah korban terbunuh sudah mencapai 537 orang, dan korban luka 2.500 orang. Apa ini?!!
Bagaimana kalian menganggap enteng perkara ini? Mana kesabaran kalian? Mana sikap menahan diri kalian? Sebagaimana jihad itu ibadah, maka sabar pun juga merupakan ibadah. Bahkan tentang sabar ini Allah berfirman :
﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [Az-Zumar : 10]
Jadi sabar merupakan ibadah. Kita beribadah kepada Allah dengan amalan kesabaran.
Kenapa kalian mengalihkan umat dari kondisi sabar menghadapi kepungan musuh kepada perlawanan dan penumpahan darah?
Kenapa kalian menjadikan warga yang aman, yang tidak memiliki keahlian berperang, baik terkait dengan urusan-urusan maupun prinsip-prinsip perang, kalian menjadikan mereka sasaran penyerbuan tersebut, sasaran serangan tersebut, dan sasaran pukulan tersebut, sementara kalian sendiri malah keluar menuju Beirut dan Libanon??! Kalian telah menimpakan bencana terhadap umat sementara kalian sendiri malah keluar (dari Palestina)??!
Oleh karena itu saya katakan : Janganlah seorang pun menggiring kita dengan perasaan atau emosi kepada membalik realita.
Kami mengatakan : bahwa wajib atas kita untuk bersabar dan menahan diri serta tidak tidak terburu-buru. Sabar adalah ibadah. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabar dengan kesabaran yang panjang atas kezhaliman Quraisy dan atas kezhaliman orang-orang kafir. Kaum muslimin yang bersama beliau juga bersabar. Apabila dakwah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam selama 23 tahun, sementara 17 tahun di antaranya Rasulullah bersabar (terhadap kekejaman/kebengisan kaum musyrikin) maka kenapa kita melupakan sisi kesabaran?? Dua atau tiga tahu mereka dikepung/diboikot! Kita bersabar dan jangan menimpakan kepada umat musibah, pembunuhan, kesusahan, dan kesulitan tersebut. Janganlah kita terburu beralih kepada aksi militer!!
Wahai saudaraku, takutlah kepada Allah! Apabila Rasulullah merasa iba kepada umatnya dalam masalah shalat, padahal itu merupakan rukun Islam yang kedua, beliau mengatakan (kepada Mu’adz) : “Apakah engkau hendak menjadi tukang fitnah wahai Mu’adz?!!” karena Mu’adz telah membaca surat terlalu panjang dalam shalat. Maka bagaimana menurutmu terhadap orang-orang yang hanya karena perasaan dan emosinya yang meluap menyeret umat kepada penumpahan darah dan aksi perlawanan yang mereka tidak memiliki kemampuan, bahkan walaupun sepersepuluh saja mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Bukankah tepat kalau kita katakan (pada mereka) : Apakah kalian hendak menimpakan musibah kepada umat dengan aksi perlawanan ini yang sebenarnya mereka sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan tersebut!
Tidak ingatkah kita ketika kaum kuffar dari kalangan Quraisy dan Yahudi berupaya mencabik-cabik Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dalam perang Ahzab, setelah adanya pengepungan (terhadap Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabatnya) yang berlangsung selama satu bulan, lalu sikap apa yang Rasulullah lakukan? Yaitu beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam mengutus kepada qabilah Ghathafan seraya berkata kepada mereka : “Saya akan memberikan kepada kalian separoh dari hasil perkebunan kurma di Madinah agar mereka (qabilah Ghathafan) tidak membantu orang-orang kafir dalam memerangi kami.”
Kemudian beliau mengutus kepada para pimpinan Anshar, maka mereka pun datang (kepada beliau). Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan kepada mereka bahwa beliau telah mengambil kebijakan begini dan begini, kemudian beliau berkata : “Kalian telah melihat apa yang telah menimpa umat berupa kegentingan dan kesulitan?”
Perhatikan, bukanlah keletihan dan kesulitan yang menimpa umat sebagai perkara yang enteng bagi beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tidak rela memimpin mereka untuk melakukan perlawanan militer dalam keadaan mereka tidak memiliki daya dan kemampuan, sehingga dengan itu beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam menerima dari shahabat Salman Al-Farisi ide untuk membuat parit (dalam rangka menghalangi kekuatan/serangan musuh).
Demikianlah (cara perjuangan Rasulullah), padahal beliau adalah seorang Rasul Shallahu ‘alaihi wa Sallam dan bersama beliau para shahabatnya. Apakah kita lebih kuat imannya dibanding Rasulullah?! Apakah kita lebih kuat agamanya dibanding Rasulullah??! Apakah kita lebih besar kecintaannya terhadap Allah dan agama-Nya dibanding Rasulullah dan para shahabatnya??!
Tentu tidak wahai saudaraku.
Sekali lagi Rasulullah tidak memaksakan (kepada para shahabatnya) untuk melakukan perlawanan (terhadap orang kafir). Bukan perkara yang ringan bagi beliau ketika kesulitan yang menimpa umat sudah sedemikian parah. Sehingga terpaksa beliau mengutus kepada qabilah Ghathafan untuk memberikan kepada mereka separo dari hasil perkebunan kurma Madinah (agar mereka tidak membantu kaum kafir menyerang Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabatnya). Namun Allah kuatkan hati dua pimpinan Anshar, keduanya berkata : ‘Wahai Rasulullah, mereka tidak memakan kurma tersebut dari kami pada masa Jahiliyyah, maka apakah mereka akan memakannya dari kami pada masa Islam? Tidak wahai Rasulullah. Kami akan tetap bersabar.’
Mereka (Anshar) tidak mengatakan : Kami akan tetap berperang. Namun mereka berkata : Kami akan bersabar. Maka tatkala mereka benar-benar bersabar, setia mengikuti Rasulullah, dan ridha, datanglah kepada mereka pertolongan dari arah yang tidak mereka sangka. Datanglah pertolongan dari sisi Allah, datanglah hujan dan angin, dan seterusnya. Bacalah peristiwa ini dalam kitab-kitab sirah, pada (pembahasan) tentang peristiwa perang Ahzab.
Maka, permasalahan yang aku ingatkan adalah : Janganlah ada seorangpun yang menyeret kalian hanya dengan perasaan dan emosinya, maka dia akan membalik realita yang sebenarnya kepada kalian.
Aku mendengar sebagai orang mengatakan, bahwa “Penyelesaian permasalahan yang terjadi adalah dengan jihad, dan seruan untuk berjihad!”
Tentu saya tidak mengingkari jihad, namun apabila yang dimaksud adalah jihad yang syar’i
Sementara jihad yang syar’i memilliki syarat-syarat, dan syarat-syarat tersebut belum terpenuhi pada kita sekarang ini. Kita belum memenuhi syarat-syarat terlaksananya jihad syar’i pada hari ini. Sekarang kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.
Apabila Sayyiduna ‘Isa u pada akhir zaman nanti akan berhukum dengan syari’at Muhammad Shallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Isa adalah seorang nabi dan bersamanya kaum mukminin, namun Allah mewahyukan kepadanya : ‘Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Jabal Ath-Thur karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak mampu melawannya.’ Siapakah kaum tersebut? Mereka adalah Ya`juj dan Ma`juj.
Perampasan yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj -mereka termasuk keturunan Adam (yakni manusia)- terhadap kawasan Syam dan sekitarnya seperti perampasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan ahlul batil terhadap salah satu kawasan dari kawasan-kawasan (negeri-negeri) Islam. Maka jihad melawan mereka adalah termasuk jihad difa’ (defensif : membela diri). Meskipun demikian ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada ‘Isa ‘alaihissalam - beliau ketika itu berhukum dengan syari’at Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa Sallam - : “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Jabal Ath-Thur. Karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.’
Allah tidak mengatakan kepada mereka : “Berangkatlah melakukan perlawanan terhadap mereka.” Allah tidak mengatakan kepada : “Bagaimana kalian membiarkan mereka mengusai negeri dan umat?” Tidak. Tapi Allah mengatakan : “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Jabal Ath-Thur. Karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.” Inilah hukum Allah.
Jadi, meskipun jihad difa’ tetap kita harus melihat pada kemampuan. Kalau seandainya masalahnya adalah harus melawan dalam situasi dan kondisi apapun, maka apa gunanya Islam mensyari’atkan bolehnya perdamaian dan gencatan senjata antara kita dengan orang-orang kafir? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا [الأنفال/61]
“Jika mereka (orang-orang kafir) condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya (terimalah ajakan perdamaian tersebut).” [Al-Anfal : 61]
Apa makna itu semua?
Oleh karena itu Samahatusy Syaikh Bin Baz Rahimahullah menfatwakan bolehnya berdamai dengan Yahudi, meskipun mereka telah merampas sebagian tanah Palestina, dalam rangka menjaga darah kaum muslimin, menjaga jiwa mereka, dengan tetap diiringi mempersiapkan diri sebagai kewajiban menyiapkan kekuatan untuk berjihad. Persiapan kekuatan untuk berjihad dimulai pertama kali dengan persiapan maknawi imani (yakni mempersiapkan kekuatan iman), baru kemudian persiapan materi.
Maka kami tegaskan bahwa :
Kewajiban kita terhadap tragedi besar yang menimpa kaum muslimin (di Palestina) dan negeri-negeri lainnya:
- Bahwa kita membantu mereka dengan do’a untuk mereka, dengan cara yang telah aku jelaskan di atas.
- Kita menjadikan masalah darah kaum muslimin sebagai perkara besar, kita tidak boleh mengentengkan perkara ini. Kita menyadari bahwa ini merupakan perkara besar yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin.
- Kita waspada agar jangan sampai ada seorangpun yang menyeret kita hanya dengan perasaan dan emosi kepada perkara-perkara yang bertentangan dengan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Kita mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah dengan cara mengingatkan diri kita dan saudara-saudara kita tentang masalah sabar. Allah telah berfirman : “Bersabarlah sebagaimana kesabaran para ulul ‘azmi dari kalangan para rasul.” [Al-Ahqaf : 35] Karena sesungguhnya sikap sabar merupakan sebuah siasat yang bijaksana dan terpuji dalam situasi dan kondisi seperti sekarang. Sabar merupakan obat. Dengan kesabaran dan ketenangan serta tidak terburu-buru insya Allah problem akan terselesaikan. Kita memohon kepada Allah pertolongan dan taufiq. Adapun mengajak umat pada perkara-perkara yang berbahaya maka ini bertentangan dengan syari’at Allah dan bertentangan dengan agama Allah.
Kelima :
Memberikan bantuan materi yang disalurkan melalui lembaga-lembaga resmi, yaitu melalui jalur pemerintah. Selama pemerintah membuka pintu (penyaluran) bantuan materi dan sumbangan maka pemerintah lebih berhak didengar dan ditaati. Setiap orang yang mampu untuk menyumbang maka hendaknya dia menyumbang. Barangsiapa yang lapang jiwanya untuk membantu maka hendaknya dia membantu. Namun janganlah menyalurkan harta dan bantuan tersebut kecuali melalui jalur resmi sehingga lebih terjamin insya Allah akan sampai ke sasarannya. Jangan tertipu dengan nama besar apapun, jika itu bukan jalur yang resmi yang bisa dipertanggungjawabkan. Janganlah memberikan bantuan dan sumbanganmu kecuali pada jalur resmi.
Inilah secara ringkas kewajiban kita terhadap tragedi yang menimpa saudara-saudara di Ghaza. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menolong dan mengokohkan mereka serta memenangkan mereka atas musuh-musuh kita dan musuh-musuh mereka (saudara-saudara kita yang di Palestina), serta menghilangkan dari mereka (malapetaka tersebut). Kita memohon agar Dia menunjukkan keajaiban-keajaiban Qudrah-Nya atas para penjajah, para penindas, dan para perampas yang zhalim dan penganiaya tersebut.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
[1] Semula Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan hadits ini, sehingga beliau pun meletakkannya dalam Dha’if Sunan Ibni Majah dan Dha’if Al-Jami’. Namun kemudian beliau rujuk dari pendapat tersebut. Beliau menshahihkan hadits tersebut dan memasukkannya dalam Ash-Shahihah no. 3420. beliau rahimahullah mengatakan :
هذا؛ وقد كنت ضعفت حديث ابن ماجه هذا في بعض تخريجاتي وتعليقاتي قبل أن يطبع (( شعب الإيمان ))، فلما وقفت على إسناده فيه، وتبينت حسنه، بادرت إلى تخريجه هنا تبرئة للذمة، ونصحا للأمة داعيا ( ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا )، وبناء عليه؛ ينقل الحديث من ( ضعيف الجامع الصغير ) و ( ضعيف سنن ابن ماجه ) إلى ( صحيحيهما ).
[2] Dalam riwayat Al-Bukhari lainnya dengan lafazh disebutkan bahwa : Maka beliau langsung duduk dengan wajah memerah seraya bersabda : …
Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=299#more-299
via: http://ashthy.wordpress.com/2009/01/23/sikap-dan-kewajiban-umat-islam-terhadap-tragedi-palestina/
10 Agustus 2008
Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
Ketika sesi tanya jawab dalam Dauroh di Masjid Fatahillah Depok tanggal 24 Jumadil Ula 1429 H (30 Mei 2008) ada hadirin yang meminta Al Ustadz Dzulqarnain untuk menceritakan biografi beliau supaya dapat mengambil ibrah dalam menuntut ilmu. Namun karena ke-tawadhu’-an beliau enggan menceritakannya seraya menganjurkan untuk membaca biografi ulama seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan lain-lain. Beberapa waktu yang lalu pun ada komentar yang masuk ke kotak saran www.tasjilat.wordpress.com yang meminta biografi para ustadz. Guna memenuhi keingintahuan khalayak, maka kami selaku pengelola www.tasjilat.wordpress.com menulis profil singkat Al Ustadz Dzulqarnain berdasarkan informasi dan arsip data yang kami miliki.
Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi—semoga Allâh subhânahu wa ta’âlâ selalu menjaganya dan kita semua—lahir di kota Makassar, provinsi Sulawesi Selatan, negara Indonesia. Kunyah beliau Abu Muhammad. Permulaan menuntut ilmu agama dan mengenal dakwah Salafiyah diawali ketika menginjak usia remaja di Makassar, beliau belajar bahasa Arab kepada Al Ustadz Khidhir (atau biasa dipanggil dengan nama Al Ustadz Khaidir) yang merupakan kakak kandung beliau. Beliau pernah pula belajar sebentar di Pondok Pesantren (Ponpes) Ihya’us Sunnah, Degolan, Yogyakarta (yang didirikan oleh Ja’far Umar Thalib). Sekitar tahun 1995 berangkat ke Ma’had Darul Hadits, Dammaj, Yaman guna menuntut ilmu kepada Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i. Saat itu tidak banyak santri Tadribud Du’at yang mendapatkan rekomendasi untuk menempuh pendidikan di Yaman, melainkan hanya santri pilihan yang terhitung cerdas dan pandai.
Sekembalinya ke Indonesia tahun 1999, beliau sempat memberikan pelajaran di Ponpes Ihya’us Sunnah Yogyakarta. Pada tahun 2000 beliau menjadi anggota staf redaksi majalah SALAFY yang berpusat di Yogyakarta
Mulai tahun 2000 bersama kerabatnya yang juga para da’i alumnus Yaman dan Universitas Madinah, beliau mendirikan Ma’had As Sunnah Makassar. Tahun 2001 menerbitkan majalah An Nashihah secara berkala sampai sekarang. Tahun 2004 pergi ke Saudi Arabia guna belajar kepada Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali (mantan dosen Universitas Islam Madinah). Tahun 2005 belajar ke Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi (Mufti Saudi Arabia Bagian Selatan). Tahun 2006 – 2008 belajar kepada Syaikh Shalih bin Abdillah bin Fauzan Al Fauzan (anggota Hai’at Kibarul Ulama Saudi Arabia). Guru beliau lainnya adalah Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali yang pernah memberikan ceramah via telepon di Makassar tahun 2002.
Karya tulis Al Ustadz Dzulqarnain dalam bentuk buku yaitu:
- "Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan Al Qur’an dan As Sunnah", diterbitkan pertama kali pada Sya’ban 1421 H/November 2000 oleh Pustaka Al Haura’ Yogyakarta (ukuran 11,5 X 18,5 cm; tebal 72 halaman), kemudian edisi revisi diterbitkan pada Sya’ban 1426/September 2005 oleh Pustaka As Sunnah Makassar (ukuran 12 X 18,5 cm; tebal 104 halaman).
- "Indahnya Sholat Malam; Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih", cetakan pertama Sya’ban 1427 H/September 2006, ukuran 12 X 18 cm, tebal 116 halaman, penerbit Pustaka As Sunnah Makassar.
- "Meraih Kemuliaan Melalui Jihad… Bukan Kenistaan", cetakan pertama Sya’ban 1427 H/Agustus 2006, ukuran 16,5 X 24,5 cm, tebal 440 halaman, penerbit Pustaka As Sunnah Makassar.
- Mukjizat Terbelahnya Bulan, dimuat di majalah SALAFY edisi XXIV/1418/1998 halaman 32-36. (Tulisan aslinya berbahasa Arab yang dibuat ketika sedang menuntut ilmu di Yaman dan dialihbahasakan oleh Azhari Asri)
- Jihad Menurut Timbangan Ahlussunnah wal Jama’ah, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 11-14.
- Ahkamul Jihad, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 15-24.
- Qunut Nazilah Senjata Orang Beriman, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 39-44.
- Ahkamul Jihad: Mengangkat Pemimpin dalam Jihad, dimuat di majalah SALAFY edisi 35/1421 H/2000 M halaman 36-42.
- Hukum Terhadap Intelijen, dimuat di majalah SALAFY edisi 37/1421 H/2000 M halaman 11-14.
- Posisi Masbuk dan Hukum Sholat di Belakang Ahlul Bid’ah, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 2-7.
- Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 7-9.
- Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Siapakah Mereka?, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 10-18.
- Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 27-39.
- Siapakah Mahrammu?, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 51-56.
- Tinja dan Kencing, Najiskah?, dimuat di majalah An Nashihah volume 02 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 2-4.
- Hakikat Dakwah Salafiyah, dimuat di majalah An Nashihah volume 02 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 5-14.
- Fatwa Para Ulama Besar Menyikapi Terorisme, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 2-20. (Artikel ini disusun di antara tujuannya sebagai bantahan ilmiah terhadap Ja’far Umar Thalib selaku Panglima Laskar Jihad saat itu yang mendukung peledakan gedung WTC di Amerika Serikat)
- Pijakan Seorang Muslim di Tengah Gelombang Fitnah, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 21-34.
- Hukum Qunut Subuh, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 59-64.
- Haruskah Orang yang Khutbah yang Menjadi Imam?, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 4-5.
- Hadits Bithoqoh (Kartu), dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 6-8.
- Seputar Air Madzi, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 9.
- Dokter Praktek, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 10.
- Ikhtilath ketika Bekerja, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 11-12.
- Hukum Nikah dalam Keadaan Hamil, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 2-6.
- Bacaan Dzikir Setelah Sholat, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 10-12.
- Seputar Sholat Tarawih, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 13.
- Lutut atau Tangankah yang Lebh Dulu Menyentuh Bumi ketika Sujud?, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 49-52.
- Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Pertama), dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 53-57.
- Melihat Allah dalam Mimpi, Mungkinkah?, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 2-4.
- Cara Sholat Taubat, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 5-6.
- Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 35-48.
- Hadits-hadits Seputar Keutamaan Surat Yasin, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 49-59.
- Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Kedua), dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 60-67.
- Mengambil Manfaat dari Sawah yang Digadaikan, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 2-3.
- Beberapa Masalah Berkaitan dengan Sholat Berjama’ah, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 3-5.
- Derajat Hadits Jihad Paling Besar adalah Melawan Hawa Nafsu, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 5.
- Kiat-kiat Menyambut Bulan Ramadhan yang Sarat Keutamaan, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 13-18.
- Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan Al Qur’an dan As Sunnah, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 24-37.
- Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 38-53.
- Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Ketiga), dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 59-64.
- Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian: Jual Beli dengan Cara Kredit, dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 40-49.
- Hukum Menjaharkan Basmalah dalam Sholat Jahriyah, dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 50-52.
- Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Keempat), dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 53-57.
- Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian: Beberapa Hukum Berkaitan dengan Undian, dimuat di majalah An Nashihah volume 09 Tahun 1/1426 H/2005 M halaman 39-40.
- Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Kelima), dimuat di majalah An Nashihah volume 09 Tahun 1/1426 H/2005 M halaman 54-59.
- Terorisme, Bahaya dan Solusinya, dimuat di majalah An Nashihah volume 10 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 17-33.
- Mengenal Kesyirikan, Bahaya dan Bentuk-bentuknya (Bagian Pertama), dimuat di majalah An Nashihah volume 10 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 34-42.
- Mengenal Kesyirikan, Bahaya dan Bentuk-bentuknya (Bagian Kedua), dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 33-35.
- Hadits-hadits Seputar Bulan Sya’ban, dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 46-52.
- Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Keenam), dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 53-58.
- Hadits Doa di Padang Arafah, dimuat di majalah As Salaam No. IV Tahun II 2006 M/1426 H halaman 37-40.
- Etika Syar’i bagi Perempuan dalam Menuntut Ilmu, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 39-44.
- Pentingnya Mengenal Al Asma’ Al Husna, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 45-50.
- Anjuran untuk Berdzikir dan Keutamaannya, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 57-61.
- Beberapa Kaidah Mengenal Al Asma’ Al Husna, dimuat di majalah An Nashihah volume 13 Tahun 1429 H/2008 M halaman 33-38.
- Beberapa Hukum Seputar Ihdad, dimuat di majalah An Nashihah volume 13 Tahun 1429 H/2008 M halaman 55-62.
Ciri pelajaran yang disampaikan Al Ustadz Dzulqarnain adalah penanaman aqidah yang kuat, kedalaman ilmu, kedetailan pembahasan, bersikap adil dan pertengahan, serta penjagaan terhadap hikmah dakwah. Hal ini bisa dibuktikan oleh setiap orang yang pernah bermajelis dengan beliau ataupun yang pernah mendengarkan rekaman pelajaran beliau.
Salah satu di antara pengalaman dakwah beliau adalah ketika di Balikpapan sekitar tahun 2003, sekelompok kaum muslimin yang terpengaruh pemahaman khawarij (gerakan jihad tanpa ilmu)—dengan izin Allâh subhânahu wa ta’âlâ —berhasil beliau sadarkan dengan dialog yang ilmiah, ramah, lemah-lembut, dan penuh hikmah. Sekarang mereka aktif belajar di majelis ilmu Salafiyah di Balikpapan seperti Ponpes Ibnul Qoyyim serta ada yang menimba ilmu ke Makassar. Wallâhu a’lâm.
Ditulis oleh Abu Yahya Muhammad Syarif di Samarinda
pada tanggal 28 Jumadits Tsani 1429 H/2 Juli 2008
www.tasjilat.wordpress.com Via: ghuroba.blogsome.com
30 Juli 2008
Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh
Nama lengkap beliau adalah Luqman bin Muhammad Ba’abduh. Dilahirkan di Kota Bondowoso Jawa Timur pada tanggal 13 Mei tahun 1971.
Pada awal tahun 1994, Allah Subhanahu Wata’ala memberi kemudahan untuk berangkat ke Negeri Yaman —negeri yang sekaligus tempat kakek-kakeknya berada— untuk menuntut ilmu kepada salah seorang Muhaddits besar abad ini, yaitu Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Al Hamdani rahimahullah. Jika dulu di zaman tabi’it tabi’in, dinyatakan tentang Al Imam ‘Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani rahimahullah –salah seorang ‘ulama besar dari Negeri Yaman pada masa itu–: “Tidak ada seorang ‘ulama pun yang paling banyak didatangi oleh para thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu syar’i) dibandingkan ‘Abdurrazzaq bin Hammam.” Maka di abad ini, kita bisa menyatakan bahwa: “Tidak ada seorang ‘ulama pun yang paling banyak didatangi oleh para thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu syar’i) dari manca negara dibandingkan Asy Syaikh Muqbil rahimahullah.”
Asy Syaikh Muqbil rahimahullah adalah salah seorang ‘ulama besar ahlus sunnah di zaman ini yang dengan tegas menghidupkan dan mengibarkan bendera sunnah. Beliau gigih membela sunnah dan membantah bid’ah dan ahlul bid’ah. Dengan tegas dan terang-terangan, beliau mengidupkan kembali manhaj ahlus sunnah wal jama’ah dan menda’wahkannya. Sehingga hal ini benar-benar membuat marah dan jengkel musuh-musuh Ahlu Sunnah. Baik dari kalangan syi’ah rafidhah, thariqat-thariqhat shufiyyyah, ikhwanul muslimin, jama’ah takfir, dan lain-lain.
Penulis mengambil ilmu dari Asy Syaikh Muqbil rahimahullah dalam berbagai disiplin ilmu, antara lain:
- Shahih Muslim
- Shahih Al Bukhari
- Tafsir Ibnu Katsir
- Al Mustadrak karya Al Imam Al Hakim
- Ash Shahihul Musnad Mimma laisa fish Shahihain karya Asy Syaikh Muqbil
- Al Jami’ush Shahih Mimma laisa fish Shahihain karya Asy Syaikh Muqbil
- Ash Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Asy Syaikh Muqbil
- Ash Shahihul Musnad min Dala-ilin Nubuwwah karya Asy Syaikh Muqbil
- Ash Shahihul Musnad fil Qadar karya Asy Syaikh Muqbil
- Gharatul Fishal ‘alal Mu’tadin ‘ala Kutubil ‘Ilal karya Asy Syaikh Muqbil
- Dzammul Mas-alah karya Asy Syaikh Muqbil
- Ahaditsul Mu’allah Zhahiruha Ash Shihhah karya Asy Syaikh Muqbil
Di samping belajar, sejak 1998 penulis juga mengajarkan beberapa disiplin ilmu kepada kaum muslimin di negeri Yaman, antara lain dalam bidang aqidah: Kitab Al ‘Aqidah Al Washithiyyah, Al Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid; dalam bidang Nahwu : Kitab At Tuhfatus Saniyyah.
Penulis kembali ke Indonesia akhir tahun 2000, setelah keberangkatan Asy Syaikh Muqbil ke Saudi ‘Arabia untuk berobat dari penyakitnya, yang ternyata tidak lama setelah itu beliau rahimahullah wafat di Bumi Al Haramain.
Aktivitas di Indonesia
Sebagai seorang da’i ahlus sunnah, yang dididik oleh ‘ulama besar ahlus sunnah, maka penulis pun bertekad untuk menghidupkan dan menda’wahkan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia. Sebuah aqidah yang telah digariskan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam serta direkomendasi oleh beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai satu-satunya aqidah yang haq dan selamat dari kesesatan dan perpecahan.
Aktivitas keseharian penulis tidak keluar dari tugas dan misi besar tersebut, antara lain:
- Sebagai Pengasuh Ma’had As Salafy di Jember. Semenjak pertama kali dibuka pada tahun 2002, ratusan thullabul ‘ilmi datang dari berbagai kota untuk menuntut ilmu. Di Ma’had tersebut diajarkan berbagai disiplin ilmu, baik dalam bidang aqidah, fiqh, Al Qur’an dan tafsir, hadits, bahasa arab, akhlaq, dan lain-lain.
- Tahun 2002, bersama dengan Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed, penulis dipercaya sebagai penasehat redaksi Majalah Asy Syari’ah. Dengan taufiq dan kemudahan dari Allah, majalah Asy Syari’ah tersebar dengan luas di tengah-tengah muslimin di Indonesia dan mendapat respon yang positif. Majalah ini menjelaskan kepada umat tentang aqidah dan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, disamping juga membantah berbagai kebatilan dan kedustaan para pembawa kebatilan yang hendak merongrong dan menodai kemurnian dienul Islam.
- Ceramah dan ta’lim di berbagai kota di Nusantara, baik berupa Daurah (kajian internsif temporal), kajian rutin, ceramah umum, dan lain-lain.
- Menulis dan menerjemahkan buku.
25 Juli 2008
Biografi Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi (Mantan) Mufti Daerah Jizaan KSA-rahimahullah-
orang yang dikasihi Robb Jalla Wa'ala.
Diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah
tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi
Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah
tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat
pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya,
mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan
menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi Mufti Daerah Jizaan
Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali
Kedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini.
Allah Ta'ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalam
Tanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalam
mutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahu
kadar ulama dan memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak mereka
dapatkan kecuali orang-orang yang mulia. Karena itu, sepantasnyalah
bagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan mereka
lewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidak
merendahkan mereka.
Kedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini.
Allah Ta'ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalam
Tanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalam
mutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahu
kadar ulama dan memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak mereka
dapatkan kecuali orang-orang yang mulia. Karena itu, sepantasnyalah
bagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan mereka
lewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidak
merendahkan mereka. Telah datang ayat-ayat Qur`an, hadits-hadits
nabawiyah dan atsar-atsar pilihan yang berisi larangan dari perbuatan
tersebut. Satu dari ulama rabbani yang memiliki hak untuk kita
muliakan adalah As-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, seorang alim yang
sekarang menjadi mufti di daerah Jizaan. Salah seorang murid beliau,
As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali menuturkan secara
ringkas cerita hidup beliau sebagaimana dinukilkan dalam Ibrah kali
ini. Semoga semangat ilmiah dan amaliyah beliau dapat menjadi ibrah
bagi kita.
NAMA DAN NASAB BELIAU
Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Fadlil Al-Allamah, Al-Muhaddits, Al-
Musnad, Al-Faqih, mufti daerah Jizaan, pembawa bendera sunnah dan
hadits di sana. As-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin Syabir An-
Najmi dari keluarga Syabir dari Bani Hummad, salah satu kabilah yang
terkenal di daerah Jizaan.
Terlahir di Najamiyah pada tanggal 26 Syawwal 1346 hijriyah, beliau
tumbuh dalam asuhan dua orang tua yang shalih. Keduanya bahkan
bernadzar untuk Allah dalam urusan putranya ini, yaitu mereka berdua
tidak akan membebani Ahmad An-Najmi kecil dengan satu pun dari
pekerjaan dunia. Dan sungguh Allah telah merealisasikan apa yang
diinginkan pasangan hamba-Nya ini.
Ayah dan ibu yang shalih ini menjaga beliau dengan sebaik-baiknya,
sampai-sampai keduanya tidak meninggalkan beliau bermain bersama anak-
anak yang lain. Ketika mencapai usia tamyiz, ayah dan ibu yang mulia
ini memasukkan beliau ke tempat belajar yang ada di kampungnya. Di
sini beliau belajar membaca dan menulis. Demikian pula membaca Al-
Qur`an, beliau pelajari di sini sampai tiga kali sebelum kedatangan As-
Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii rahimahullah pada tahun 1358 hijriyah.
Pertama kali beliau membaca Al-Qur`an di bawah bimbingan As-Syaikh
Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi tahun 1355 hijriyah. Kemudian beliau
membacanya di hadapan As-Syaikh Yahya Faqih Absi -seorang yang
berpemahaman Asy'ari- yang semula merupakan penduduk Yaman lalu datang
dan bermukim di Najamiyah. Tahun 1358, As-Syaikh Ahmad An-Najmi masih
belajar pada orang ini. Ketika datang As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii
terjadi perdebatan antara keduanya (antara As-Syaikh Yahya Faqih Absi
dan As-Syaikh Al-Qar'aawii) dalam masalah istiwa. Dan Allah Ta'ala
berkehendak untuk memenangkan Al-Haq hingga As-Syaikh Yahya yang
Asy'ari ini kalah dan pada akhirnya meninggalkan Najamiyah.
SEKITAR KISAH BELIAU DALAM BELAJAR ILMU
Pada tahun 1359, setelah perginya guru beliau yang berpemahaman
Asy'ari, As-Syaikh Ahmad An-Najmi bersama kedua paman beliau, As-
Syaikh Hasan dan As-Syaikh Husein bin Muhammad An-Najmi sering
menjumpai As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawi di kota Shaamithah. Kemudian
pada tahun berikutnya beliau masuk ke Madrasah As-Salafiyah. Dan pada
kali ini beliau membaca Al-Qur`an dengan perintah As-Syaikh Abdullah
Al-Qar'aawii rahimahullah di hadapan As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli
rahimahullah. Beliau menghafal Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid,
Ats-Tsalatsatul Ushul, Al-Arba'in An-Nawawiyah dan Al-Hisab. Beliau
juga memantapkan pelajaran khath.
Di Madrasah As-Salafiyah, As-Syaikh Ahmad An-Najmi yang masih belia
ini duduk di majlis yang ditetapkan oleh As-Syaikh Al-Qar'aawii sampai
murid-murid kecil pulang ke rumah masing-masing setelah shalat dhuhur.
Namun As-Syaikh Ahmad An-Najmi tidak ikut pulang bersama mereka.
Beliau malah ikut masuk ke halaqah yang diperuntukkan bagi orang
dewasa / murid-murid senior yang diajari langsung oleh As-Syaikh Al-
Qar'aawii. Beliau duduk bersama mereka dari mulai selesai shalat
dhuhur sampai datang waktu Isya. Setelah itu baru beliau kembali
bersama kedua paman beliau ke kediamannya.
Hal demikian berlangsung sampai empat bulan hingga akhirnya As-Syaikh
Al-Qar'aawii mengijinkan beliau untuk bergabung dengan halaqah kibaar
ini. Di hadapan As-Syaikh Al-Qar'aawii beliau membaca kitab Ar-
Rahabiyah dalam ilmu Fara'id, Al-Aajurumiyah dalam ilmu Nahwu, Kitabut
Tauhid, Bulughul Maram, Al-Baiquniyah, Nukhbatul Fikr dan syarahnya
Nuzhatun Nadhar, Mukhtasharaat fis Sirah, Tashriful Ghazii,
Al-'Awaamil fin Nahwi Mi'ah, Al-Waraqaat dalam Ushul Fiqih, Al-Aqidah
Ath-Thahawiyah dengan syarah / penjelasan dari As-Syaikh Abdullah Al-
Qar'aawii sebelum mereka diajarkan Syarah Ibnu Abil 'Izzi terhadap
Aqidah Thahawiyah ini. Beliau juga mempelajari beberapa hal dari kitab
Al-Alfiyah karya Ibnu Malik, Ad-Durarul Bahiyah dengan syarahnya Ad-
Daraaril Mudliyah dalam fiqih karya Al-Imam Syaukani rahimahullah. Dan
masih banyak lagi kitab lainnya yang beliau pelajari, baik kitab
tersebut dipelajari secara kontinyu -sebagaimana kitab-kitab yang
disebutkan di atas- maupun kitab-kitab yang digunakan sebagai
perluasan wawasan dari beberapa risalah-risalah dan kitab-kitab kecil
dan kitab-kitab yang dijadikan rujukan ketika diadakan pembahasan
ilmiyah seperti Nailul Authar, Zaadul Ma'aad, Nurul Yaqin, Al-Muwatha'
dan kitab-kitab induk (Al-Ummahat).
Pada tahun 1362 hijriyah, As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii mengajarkan
di halaqah kibar ini kitab-kitab induk yang ada di perpustakaan beliau
seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Nasa'i
dan Muwaththa' Imam Malik. Mereka yang membacakan kitab-kitab tersebut
di hadapan beliau. Namun mereka tidak sampai menyelesaikan kitab-kitab
tersebut karena mereka harus berpisah satu dengan lainnya disebabkan
paceklik yang menimpa.
Dan dengan keutamaan dari Allah, pada tahun 1364 mereka dapat kembali
ke tempat belajar mereka dan melanjutkan apa yang semula mereka
tinggalkan. As-Syaikh Abdullah kemudian memberi izin kepada As-Syaikh
Ahmad An-Najmi untuk meriwayatkan kitab induk yang enam (Al-Ummahat As-
Sitt).
Waktu berjalan hingga sampai pada tahun 1369. Beliau berkesempatan
untuk belajar kitab Ishlahul Mujtama' dan kitab Al-Irsyad ila
Ma'rifatil Ahkam karya As-Syaikh Abdurrahman bin Sa'di rahimahullah
dalam masalah fiqih yang disusun dalam bentuk tanya jawab. Dua kitab
ini beliau pelajari dari As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-'Amuudi
rahimahullah seorang qadli daerah Shaamith pada waktu itu. Beliau
berkesempatan pula untuk belajar Nahwu pada As-Syaikh Ali bin Syaikh
Utsman Ziyaad Ash-Shomaalii dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-
Qar'aawii rahimahullah dengan membahas kitab Al-'Awwamil fin Nahwi
Mi'ah dan kitab-kitab lainnya.
Tahun 1384, beliau hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-'Allamah
Mufti negeri Saudi Arabia As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh
rahimahullah selama hampir dua bulan untuk mempelajari tafsir dalam
hal ini Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari dengan pembaca kitab Abdul Aziz
Asy-Syalhuub. Pada tahun yang sama beliau juga hadir dalam halaqah
Syaikh Al-Imam Al-'Allamah As-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah
selama kurang lebih satu setengah bulan guna mempelajari Shahih
Bukhari. Majelis yang terakhir ini diadakan antara waktu Maghrib dan
Isya'.
GURU-GURU BELIAU
Syaikh Ahmad An-Najmi memiliki beberapa orang guru sebagaimana bisa
dibaca pada keterangan di atas. Guru-guru beliau adalah:
1) As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-'Amuudi, seorang qadli di daerah
Shaamithah pada zamannya.
2) As-Syaikh Hafidh bin Ahmad Al-Hakami
3) As-Syaikh Al-Allamah Ad-Da'iyah Al-Mujaddid di daerah selatan
kerajaan Saudi Arabia Abdullah Al-Qar'aawii, beliau adalah guru yang
paling banyak memberikan faedah kepada As-Syaikh Ahmad An-Najmi.
4) As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi
5) As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli
6) As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomaali
7) As-Syaikh Al-Imam Al-Allamah Mufti negeri Saudi Arabia yang dahulu,
Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh.
8) As-Syaikh Yahya Faqih Absi Al-Yamani
MURID-MURID BELIAU
As-Syaikh Ahmad An-Najmi hafidhahullah memiliki murid yang sangat
banyak, seandainya ada yang mencoba menghitungnya niscaya ia
membutuhkan ribuan lembaran kertas. Namun di sini cukup disebutkan
tiga orang saja yang ketiganya masyhur dalam bidang keilmuan. Mereka
adalah:
1) As-Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits penolong Sunnah, As-Syaikh Rabi'
bin Hadi Al-Madkhali.
2) As-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.
3) As-Syaikh Al-Alim Al-Fadlil Ali bin Nashir Al-Faqiihi.
KECERDASAN BELIAU
Allah Ta'ala menganugerahkan kepada beliau kecerdasan yang tinggi
sekali. Berikut ini kisah yang menunjukkan kecerdasan dan kemampuan
menghafal beliau sejak kecil -semoga Allah menjaga beliau-:
Berkata As-Syaikh Umar bin Ahmad Jaradii Al-Madkhali -semoga Allah
memberi taufik kepada beliau-: "Tatkala As-Syaikh Ahmad An-Najmi hadir
bersama kedua pamannya Hasan dan Husein An-Najmi di Madrasah As-
Salafiyah di Shaamithah, tahun 1359 hijriyah, umur beliau saat itu 13
tahun namun beliau mampu mendengarkan dan memahami pelajaran-pelajaran
yang disampaikan oleh As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii kepada murid-
murid seniornya. Dan beliau benar-benar menghafal pelajaran-pelajaran
tersebut."
Aku katakan (yakni As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali):
"Inilah yang menyebabkan As-Syaikh Abdullah Al-Qar'aawii
menggabungkannya pada halaqah kibaar yang beliau tangani sendiri
pengajarannya. Beliau melihat bagaimana kepandaiannya, kecepatan
hafalannya dan kecerdasannya."
KESIBUKAN BELIAU DALAM MENYEBARKAN ILMU
As-Syaikh Ahmad An-Najmi menyibukkan dirinya dengan mengajar di
madrasah-madrasah milik gurunya As-Syaikh Al-Qar'aawii rahimahullah
semata-mata karena mengaharapkan pahala. Pada tahun 1367 hijriyah
beliau mengajar di kampungnya An-Najamiyah. Lima tahun kemudian (tahun
1372) beliau pindah ke tempat yang bernama Abu Sabilah di Hurrats. Di
sana beliau menjadi imam dan guru. Pada tahun berikutnya ketika dibuka
Ma'had Ilmi di Shaamithah, beliau menjadi guru di sana sampai tahun
1384 hijriyah. Saat itu beliau memutuskan untuk safar ke Madinah guna
mengajar di Jami'ah Al-Islamiyah di sana, namun ternyata beliau
mendapat tugas yang lain sehingga beliau harus kembali ke daerah
Jaazaan. Di sini Allah menghendaki agar beliau menjadi seorang
penasehat dan pemberi bimbingan, dan beliau menjalankan tugas beliau
dengan sebaik-baiknya.
Tahun 1387, beliau mengajar di Ma'had Ilmi di kota Jazaan sesuai
dengan permintaan beliau. Pada awal pengajaran tahun 1389 beliau
kembali mengajar di Ma'had Shaamithah dan beliau tinggal di sana
sebagai guru hingga tahun 1410.
Sejak saat itu sampai ditulisnya biografi ini, beliau menyibukkan diri
dengan mengajar di rumahnya dan di masjid yang berdekatan dengan rumah
beliau serta di masjid-masjid lain dengan tetap menjalankan tugas
beliau sebagai mufti.
Beliau -hafidhahullah- dengan semua aktifitas ilmiahnya telah
menjalankan wasiat gurunya untuk terus mengajar dan menjaga /
memperhatikan para pelajar, khususnya pelajar asing dan mereka yang
terputus bekal / nafkahnya dalam penuntutan ilmu. Dan kita dapatkan
beliau -semoga Allah menjaganya- memiliki kesabaran yang menakjubkan.
Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas apa yang telah dia
berikan kepada kita.
Dengan wasiat As-Syaikh Al-Qar'aawii juga, beliau terus melakukan
pembahasan ilmiyah dan mengambil faedah, khususnya dalam ilmu hadits
dan fiqih serta ushul ilmu hadits dan ushul fiqih, hingga beliau
mencapai keutamaan dengannya melebihi teman-temannya. Semoga Allah
memberkahi umur beliau dan ilmu beliau, dan semoga Allah memberi
manfaat dengan kesungguhan beliau.
KARYA ILMIAH BELIAU
Beliau banyak memiliki karya-karya tulis ilmiah, sebagiannya sudah
dicetak dan sebagian lagi belum dicetak. Semoga Allah memudahkan
dicetaknya seluruh karya beliau agar kemanfaatannya tersampaikan pada
ummat. Di antara karya beliau:
1) Awdlahul Irsyad fir Rad 'ala Man Abaahal Mamnuu' minaz Ziyaarah
2) Ta'sisul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, telah dicetak dari karya ini
satu juz yang kecil / tipis sekali.
3) Tanzihusy Syari'ah 'an Ibaahatil Aghaanil Khali'ah.
4) Risalatul Irsyaad ila Bayanil Haq fi Hukmil Jihaad.
5) Risalah fi Hukmil Jahri bil Basmalah
6) Fathur Rabbil Waduud fil Fatawa war Ruduud.
7) Al-Mawridul 'Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada 'ala Ba'dlil Manaahijid
Da'wiyah minal 'Aqaaid wal A'maal.
Dan masih banyak lagi dari tulisan-tulisan beliau yang bermanfaat yang
beliau persembahkan untuk kaum muslimin, semoga Allah membalas beliau
dengan sebaik-baik pahala dan semoga Allah menjadikannya bermanfaat
bagi Islam dan muslimin.
Demikian akhir biografi beliau yang dapat kami haturkan pada para
pembaca, walhamdulillah ***
(Diterjemahkan secara ringkas oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-
Atsari dari mukaddimah kitab Al-Mawridul 'Udzbuz Zalaal fiimaa
Intaqada 'ala Ba'dlil Manaahijid Da'wiyah minal 'Aqaaid wal A'maal,
hal 3-10).
Sumber:http://darussalaf.org/myprint.php?id=630
20 Juli 2008
Mengenal Al Imam Al Barbahari -Penulis Kitab Syarhus Sunnah- rahimahullah
Nama, kun yah, dan nasab Imam Al Barbahari Rahimahullah
Beliau adalah Al Imam Al Hafidz Al Mutqin Ats Tsiqah Al Faqih Al Mujahid Syaikh Hanabilah sekaligus pemuka mereka pada masanya, Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Khalaf Al Barbahari, sebuah nama yang dinisbatkan kepada Barbahar yaitu obat-obatan yang didatangkan dari India. [Berkata Syaikh ar Radadi, "Lihat penisbahannya dalam kitab Al Ansab karya As Sam'ani (1/307) dan Al Lubab karya Ibnu Atsir (1/133)."]
Tempat Kelahiran dan Tanah Air beliau Rahimahullah
Berkata Syaikh Ar Radadi, ”Tidak ada satu pun sumber (rujukan) yang berada di tangan kami yang menyebutkan tentang kelahiran dan pertumbuhan beliau Rahimahullah. Hanya saja yang nampak bagi itulah tersiar reputasi dan kemasyhuran beliau Rahimahullah di kalangan masyarakat umum terlebih lagi orang-orang yang khusus di antara mereka. Selain itu Al Imam Al Barbahari Rahimahullah juga bersahabat erat dengan beberapa sahabat Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah yakni Ahmad bin Hanbal Rahimahullah serta menimba ilmu dari mereka, sedangkan mayoritas mereka berasal dari Baghdad. Inilah di antara hal-hal yang menunjukkan bahwa beliau Rahimahullah tumbuh di tengah-tengah alam yang penuh dengan ilmu Sunnah yang sangat berpengaruh terhadap karakteristik kepribadiannya.”
Berkata Syaikh Al Qahthani, “Imam Al Barbahari Rahimahullah bersahabat erat dengan beberapa sahabat Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah di antaranya Imam Ahmad bin Muhammad Abu Bakar Al Marwazi Rahimahullah salah seorang murid utama Imam Ahmad Rahimahullah.
Selain itu beliau juga bersahabat dengan Sahl bin Abdillah At Tustari Rahimahullah, yang mana beliau meriwayatkan perkataan darinya, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan dunia dan menjadikan di dalamnya orang-orang bodoh dan ulama, seutama-utama ilmu adalah yang diamalkan, semua ilmu akan menjadi hujjah kecuali yang diamalkan dan beramal dengannya adalah keindahan semata kecuali yang benar, dan amalan yang benar aku tidak bisa memastikannya kecuali dengan istisna’ (pengecualian)… Masya Allah.”
Kemuliaan, Keilmuan, dan Pujian Ulama terhadap beliau Rahimahullah
Berkata Syaikh Ar Radadi, “Imam Al-Barbahari Rahimahullah adalah seorang Imam yang disegani, senantiasa berbicara dan mengajak kepada kebenaran serta seorang da’i yang senantiasa menyeru kepada Sunnah dan mengikuti atsar. Beliau Rahimahullah memiliki kewibawaan dan kemuliaan di sisi para penguasa. Majelis beliau makmur dengan halaqah hadits, atsar, dan fiqih serta dihadiri sebagian besar para Imam Ahlul Hadits dan fiqih.”
Berkata Abu Abdillah Al Faqih, “Apabila kamu melihat seorang penduduk Baghdad mencintai Abul Hasan bin Basyar dan Abu Muhammad Al Barbahari maka ketahuilah bahwa ia shahibu Sunnah (orang yang mengikuti Sunnah)!”.
Berkata Syaikh Al Qahthani, “Para ulama Ahli Sejarah menyebutkan sebuah kisah yang menerangkan akan agungnya kemuliaan Imam Al Barbahari Rahimahullah. Pada suatu hari Qaramithah (yakni salah satu sekte aliran Syi’ah) merampok jama’ah haji, maka bangkitlah Imam Al Barbahari Rahimahullah seraya mengatakan: “Wahai saudara sekalian! Bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan sebesar seratus ribu dinar, ditambah seratus ribu dinar, tambah lagi seratus ribu dinar……(beliau ulangi lima kali) datanglah kepadaku niscaya aku akan membantunya!"
Berkata Ibnu Bathah, “Andai kata ada yang membutuhkan bantuan tersebut niscaya akan beliau bantu.”
Berkata Syaikh Ar Radadi, “Adapun pujian ulama terhadap beliau sangat banyak sekali, berkata Ibnu Abi Ya’la, " ….Ia seorang syaikh, pemuka kaum pada masanya dan orang yang paling depan dalam mengingkari ahlul bid’ah serta menghadapi mereka dengan tangan dan lisan. Beliau memiliki kedudukan terhormat (kewibawaan) di sisi penguasa, terdepan di kalangan sahabat-sahabatnya, salah satu imam yang bijaksana dan penuh hikmah, salah satu hufadz ilmu ushul yang mutqin serta salah satu orang yang tsiqah di kalangan kaum muslimin.”
Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah dalam kitab Al Ibar, “…Al Faqih Al Qudwah Syaikh Hanabilah di Irak baik ucapan, keadaan, maupun hafalan. Beliau Rahimahullah memilki kedudukan terhormat dan kemuliaan yang sempurna.”
Berkata Ibnul Jauzi Rahimahullah, ”…..pengumpul ilmu, zuhud, dan sangat keras terhadap ahlul bid’ah.”
Berkata Ibnu Katsir Rahimahullah, “Al Alim, Az Zahid, Al Faqih, Al Hanbali, Al Wa’idh…., sangat keras terhadap ahlul bid’ah dan maksiat. Beliau Rahimahullah memilki kedudukan tinggi yang sangat disegani oleh orang-orang khusus dan masyarakat umum.”
Berkata Syaikh Al Qahthani, "Di antara hal yang menunjukkan ketinggian kedudukan beliau adalah tatkala Abu Abdillah bin Arafah yang terkenal dengan sebutan Nafthawaih meninggal pada bulan Shafar 313 H, yang mana jenazahnya dihadiri oleh segenap anak-anak dunia dan Dien, majulah Imam Al Barbahari mengimami manusia. Pada tahun itulah bertambah harum nama dan kewibawaaan Al Imam Al Barbahari, menjadi tinggi kalimatnya dan mulailah muncul sahabat-sahabat beliau Rahimahullah sehingga mereka tersebar merata dalam mengingkari ahlul bid’ah. Telah sampai berita kepada kami bahwa Imam Al Barbahari pernah melewati sisi barat kota, tiba-tiba saja beliau bersin. Maka dengan serempak para sahabat beliau Rahimahullah mengucapkan:
يَرْحَمُكَ اللهُ
"Semoga Allah merahmatimu" sehingga suara gemuruh mereka terdengar oleh khalifah yang pada waktu itu sedang berada di rumah atau istananya, khalifah pun bertanya tentang apa yang terjadi? Setelah diberitahukan khalifah memaklumi hal itu." [Lihat Thabaqat Hanabilah (2/44)]
Sifat Zuhud dan Wara’ Beliau Rahimahullah
Berkata Syaikh Al Qahthani, “Imam Al Barbahari sangat terkenal dengan sifat zuhudnya terhadap harta benda dan perhiasan dunia, zuhud orang yang menguasai dunia, akan tetapi dunia tersebut beliau letakkan di telapak tangan beliau. Adapun kecintaannya terhadap Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shalallahu’alaihi wassalam serta meninggikan al haq berada di dalam lubuk hatinya. Oleh karena itu ulama yang menulis biografi beliau Rahimahullah menyebutkan bahwa beliau Rahimahullah melepaskan warisan ayahnya sebesar 70 ribu dirham.” (lihat Thabaqat Hanabilah [2/43])
Murid-murid Beliau Rahimahullah
Berkata Syaikh Ar Radadi: “Banyak sekali penuntut ilmu yang menimba ilmu dan mengambil faedah dari Imam Al Barbahari. Beliau Rahimahullah adalah seorang panutan baik dalam tingkah laku maupun perkataannya. Di antara murid-murid beliau Rahimahullah adalah:
1. Al Imam Al Qudwah Al Faqih Abu Abdillah bin Ubaidillah bin Muhammad Al Ukbari yang terkenal dengan Ibnu Baththah, meninggal 387 H. [lihat dalam Al-‘Ibar 92/171 dan As-Siyar (16/529)]
2. Al Imam Al Qudwah yang berbicara dengan penuh hikmah, Muhammad bin Ahmad bin Ismail Al Baghdadi Abul Husam bin Sam’un, pemberi nasehat, pemilik berbagai ahwal dan maqam, meninggal pada 387 H. [lihat dalam Al-‘Ibar 92/172 dan As-Siyar (16/505)]
3. Ahmad bin Kamil bin Khalaf bin Syajarah Abu Bakar Muhammad bin Khalaf bin Utsman Abu Bakar perawi kitab ini dari penulis.
4. Muhammad bin Khalaf bin Utsman Abu Bakar, berkata Al Khatib AlBaghdadi, “Berita yang sampai kepadaku dia adalah orang yang menampakkan kezuhudannya dan kebagusan madzhabnya, hanya saja dia banyak meriwayatkan hadits-hadits munkar dan bathil.” [lihat biografinya dalam tarikh Al-Baghdad (3/225) dan Mizan (4/2)]
Beberapa Kutipan Ucapan Beliau Rahimahullah
Berkata Syaikh Al Qahthani, "berkata Imam Al Barbahari: "perumpamaan ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan badan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya maka jika mereka telah mantap dengan posisinya maka mereka menyengat mangsanya. Demikian pula ahli bid’ah, mereka menyembunyikan bid’ah di tengah-tengah manusia lalu apabila mereka telah mantap dengan kedudukannya mereka sampaikan apa yang mereka inginkan.” [Lihat Al Minhaj Al Ahmad (3/37)]
Dan di antara ucapan beliau Rahimahullah yang sangat bermanfaat adalah, "bermajelis untuk saling nasihat menasihati membawa pintu-pintu faidah sedangkan bermajelis untuk berdebat menutup pintu-pintu faidah."
Dan di antara syair yang beliau Rahimahullah ucapkan:
Barang siapa yang qanaah (merasa cukup) dengan bekalnya
Niscaya dia akan menjadi kaya dan hidup dengan penuh ketentraman
Aduhai, betapa indahnya sikap qanaah. Betapa banyak orang yang rendah terangkat karenanya
Jiwa seorang pemuda akan menjadi sempit apabila merasa butuh
Andai saja ia mau mencari kemuliaan dengan Rabb-nya niscaya akan menjadi lapang.
Tulisan-Tulisan Beliau Rahimahullah
Berkata Syaikh Ar Radadi, "Para ulama yang menulis biografi beliau menyebutkan bahwa beliau memiliki karya tulis yang sangat banyak hanya saja tidak nampak bagi kami karya-karya beliau selain kitab ini -Syarhus Sunnah-.
Ujian yang Beliau Rahimahullah Alami dan Kisah Wafat Beliau Rahimahullah
Berkata Syaikh Al Qahthani, “Imam Al Barbahari Rahimahullah mendapatkan ujian sebagaimana orang-orang shalih sebelumnya mendapat ujian. Ahlul bid’ah menghembuskan kebencian terhadap beliau Rahimahullah ke dalam hati penguasa. Pada tahun 321 H, masa khalifah Al Qahir dan menterinya Ibnu Muqilah berusaha menangkap beliau Rahimahullah sehingga beliau Rahimahullah bersembunyi. Namun dia berhasil menangkap beberapa sahabat dekatnya dan membuangnya ke Bashrah. Namun kemudian Allah Ta’ala menghukum Ibnu Muqilah atas perbuatan yang telah ia lakukan, yaitu Allah membuat khalifah Al-Qahir Billah menjadi marah kepada Ibnu Muqilah, sehingga Ibnu Muqilah melarikan diri dan Al Qahir memecat dia dari jabatan kementeriannya serta membakar habis rumahnya. Hingga akhirnya ia tertangkap oleh Al Qahir pada tahun 322 H, kemudian dicukil kedua matanya hingga mengucur darah dari kedua matanya yang akhirnya ia buta.
Kemudian datanglah kekhalifahan Ar Radhi. Ahlul bid’ah senantiasa menyusupkan kebencian ke dalam hati khalifah sehingga diserukan di Baghdad, “Jangan sampai ada dua sahabat Al Barbahari yang berkumpul….!” sehingga Imam Al Barbahari dan sahabatnya kembali bersembunyi. Ketika itu Imam Al Barbahari singgah di arah barat kota di suatu tempat bernama Babul Muhawwil. Kemudian beliau Rahimahullah pindah ke arah timur kota untuk bersembunyi hingga akhirnya beliau meninggal dunia dalam persembunyiannya tersebut pada bulan Rajab 329 H dan saat itu beliau Rahimahullah berumur sembilan puluh tujuh tahun. Ada yang mengatakan juga bahwa beliau hidup selama tujuh puluh tujuh tahun dan pada akhir hayatnya beliau sempat menikahi seorang budak wanita. [lihat Thabaqat Hanabilah 2/44, Siyar ‘Alamin Nubala 15/93 dan Minhajul Ahmad 2/38]
Berkata Syaikh Ar Radadi hafidzahullah ta’ala menukil perkataan Ibnu Abi Ya’la dalam Thabaqat Al Hanabilah, ia berkata: “Telah menghikayatkan kepadaku kakekku dan nenekku, keduanya berkata, “Dahulu Abu Muhammad Al Barbahari Rahimahullah bersembunyi di tempat saudara wanita Tazun yang berada di arah timur kota di suatu tempat yang bernama Darbul Hammam jalan Darbus Silsilah. Beliau Rahimahullah tinggal disana sekitar 1 bulan hingga beliau dijemput oleh ajal di tempat tersebut. Maka berkatalah saudara wanita Tuzun tersebut kepada pembantunya, “Al Barbahari telah meninggal, carilah siapa kira-kira orang yang bisa memandikannya?!” Tak lama kemudian pembantu tadi datang dengan orang yang akan memandikannya. Kemudian beliau Rahimahullah pun dimandikan. Setelah itu pembantu tersebut mengunci seluruh pintu hingga tidak ada seorang pun yang mengetahuinya lantas ia berdiri menshalatkan jenazah Al Imam Al Barbahari Rahimahullah sendirian. Ketika pemilik rumah tersebut mengintip, dia melihat ruangan tersebut telah dipenuhi oleh laki-laki yang mengenakkan pakaian bewarna putih dan hijau. Tatkala telah salam pembantu tadi tidak melihat seorangpun. Wanita pemilik rumah tersebut lantas memanggilnya seraya mengatakan: “Ya Hijam, kamu telah membinasakanku dan saudaraku!” Maka pembantu tadi menjawab: “Wahai nyonya bukankah nyonya melihat sendiri (apa yang telah aku lakukan)?” “Ya!” jawab si pemilik rumah. Lalu pembantu tadi berkata: “Ini semua kunci-kunci pintunya, semua tertutup.” Maka tuan wanita berkata: “Kuburkan dia di rumahku, apabila aku mati kuburkanlah aku disisinya…!”
Dengan demikian wahai saudara pembaca sekalian usai sudah biografi Imam Al Barbahari Rahimahullah yang tidak lain semua itu menunjukkan tingginya kemuliaan dan kedudukan beliau Rahimahullah di antara ahlul ilmi. Untuk menambah wawasan tentang kisah perjalanan beliau rahimahullah silahkan merujuk sumber-sumber yang telah disebutkan oleh Syaikh Ar Radadi hafidzahullah ta’ala berikut ini yang semoga bisa membangkitkan semangat untuk meneladani tingkah dan perilaku beliau Rahimahullah baik yang berupa ilmu dan amal shalih maupun sikap zuhud terhadap dunia yang diberikan oleh Allah Tabaroka wata’ala kepadanya serta sikap beliau Rahimahullah yang mengedepankan sesuatu yang kekal daripada yang akan lenyap.
Akhirnya kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga melimpahkan keluasan karunia dan rahmat-Nya kepada beliau Rahimahullah dan seluruh ulama Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah tiada serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga tegaknya Hari Pembalasan.
1.Thabaqat Al Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la (2/18-45)
2. Al Muntadham, Ibnul Jauzi (14/14-15)
3. Al Kamil fit Tarikh, Ibnul Atsir (8/37
4. Al `Ibar fi Khabari man Ghabar, Adz Dzahabi (2/33)
5. Siyar A’lamin Nubala`, Adz Dzahabi (15/90-93)
6. Tarikhul Islam, Adz Dzahabi (Hawadits wa wafyiat 321-330 H, hal 258-260)
7. Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir (11/213-214)
8. Al Wafiy bil Wafiyat, Ash Shafadi (12/146-147)
9. Mir’atul Janan, Al Yafi’i (2/286-287)
10. Syidzaratu Adz Dzahab, Ibnul ‘Imad (2/319-323)
11. Al Minhajul Ahmad, Al-‘Alimi (2/26-39)
12. Al Maqashidul Arsyad, Ibnu Muflih (1/228-230)
13. Al Manaqib Al Imam Ahmad, Ibnul Jauzi (hal 512-513)
14. Jam’ul Juyusy wad Dasakir ‘ala Ibni ‘Asakir, Yusuf Ibnu ‘Abdil Hadi (Lam/81 Ba’)
15. Al A’lam, Az Zarkali (2/201)
16. Mu’jamul Mu’allifiin, Ridha Kahalah (3/253)
17. Tarikh At Turats Al ‘Arabi, Sazkin (1/234-235)
[Dari Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi, Penerbit Maktabah Al Ghuroba, hal 25-33]
Sumber: Sunny.wordpress.com
10 Juli 2008
Hat-hati dari Mereka!
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah washalatu wassalamu 'ala Rasulillah wa 'ala aalihi wa ashhaabihi wa man waalah.
Amma ba'du:
Nama seperti pada gambar di atas banyak sekali di Kuwait sini, ini berdasarkan pengetahuan penulis. Pemiliknya bisa dipastikan adalah orang-orang Syi'ah yang mayoritasnya mereka adalah Syi'ah Rafidhah. Bagi Ahli Sunnah, walhamdulillah, sudah dapat diketahui dengan jelas tentang tidak boleh/haram hukumnya menyandarkan nama penghambaan kepada selain dari nama-nama Alloh.
Kita telah mengenal dengan baik nama-nama pilihan seperti Abdulloh, Abdur Rahman, Abdul Malik, Abdul Aziz, nama-nama para shahabat, orang-orang shalih, ulama, dll yang semuanya disandarkan kepada Alloh jika memakai kata awal ABDU atau ABDUL.
Berikut ini nama-nama lain yang biasa digunakan oleh orang-orang syiah: Abdul Nabi, Abdul Rasul, Abdul Abbas, Abdul Ali, bahkan ada juga Abdul Husein. Ini berdasarkan Civil ID (KTP) orang tersebut yang penulis lihat sendiri pada file/rekam medis saat mereka berobat atau dirawat di Rumah Sakit tempat kami bekerja.
Kemudian penulis mencoba memperhatikan dan mencari informasi tentang kebiasaan dan ciri khas mereka sehari-hari baik saat kami memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien maupun bertanya kepada shahabat di sini, di Kuwait.
Kesimpulan yang kami dapatkan sebagai berikut:
Dari segi AQIDAH, mereka telah terjerumus dalam kesyirikan sampai pada tingkatan yang orang jahiliyah dahulu pun tidak pernah melakukannya, contohnya: saat mereka menderita atau merasakan sakit yang hebat, maka yang mereka seru adalah Ali radhiyallohu 'anhu bukannya Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Mereka menyeru dengan berteriak: "Yaa Ali...yaa Ali!!!" Mereka melupakan Alloh. Naudzubillahi min dzalik.
Dari segi IBADAH, tata cara mereka beribadah selalu menyelisihi Ahlus Sunnah, contohnya banyak sekali, diantaranya:
- mereka akan adzan maghrib jika telah terbit bintang, dimana Ahlus Sunnah telah selesai menunaikan shalat maghrib dan mereka menambahi lafadz adzan dengan "Wa asyhadu anna 'Aliyan waliyulloh= dan aku bersaksi bahwa 'Ali adalah wali Alloh",
- mereka shalat dzuhur dan ashar dengan jahr/suara keras dan selalu dijama'
- menurut mereka, bersedekap saat berdiri adalah membatalkan shalat,
- mereka sujud di atas batu Karbala yang mereka namakan turban dan meyakini kesuciannya serta keutamaannya,
- mereka tidak mengucapkan salam dan tidak menengok ke kanan dan atau ke kiri saat mengakhiri shalat tapi mereka hanya menepuk-nepukkan kedua tangannya pada kedua pahanya.
- Mereka meyakini tidak ada shalat jama'ah sebelum datangnya Imam Mahdi Al Muntadzar (yang ditunggu-tunggu, entah sampai kapan?) sehingga jika sekelompok orang dari mereka masuk ke masjid maka mereka akan shalat sendiri-sendiri dengan suara masing-masing walaupun dengan anak-anak mereka sendiri tidak akan mengajari anaknya untuk berjama'ah, mereka biarkan anak-anaknya melihat dan mengikuti apa yang mereka lakukan. Tidak ada imam, tidak ada ma'mum, maka mereka semua tidak akan shalat bershaf-shaf tetapi sendiri-sendiri.
- Muamalah mereka dengan non syi'ah kebanyakan baiknya hanyalah berpura-pura. Mereka sangat tidak suka jika melihat orang sunni yang menerapkan sunnah seperti memelihara jenggotnya seperti yang Rasululloh perintahkan. Kebanyakan akhlak mereka sangat tidak terpuji, seperti mudah marah, sombong dan tidak menghargai orang lain yang bukan syi'ah.
- Para pembesar/ulama mereka yang mereka juluki dengan SAYYID memiliki pakaian khusus ciri khas mereka yang orang umum tidak akan berani memakainya, yaitu jubah dan imamah/sorban berwarna hitam. Jika pembaca pernah melihat Sekjen Hizbulloh di Libanon sekarang ini, yaitu Hasan Nasrulloh atau lebih tepatnya bukan Hasan (baik) tapi Sayyi' (jelek) seperti itulah contoh salah satu sayyid mereka. Padahal Rasululloh shalallohu 'alaihi wasallam sebagai pemimpin umat bahkan sebagai manusia paling mulia pun tidak mempunyai pakaian atau atribut khusus, beliau sama dengan para shahabat sehingga saat ada seorang Arab Badui yang ingin menemui beliau pun tidak dapat mengenali beliau sehingga dia bertanya kepada kerumunan para shahabat yang saat itu bersama Rasululloh, orang Arab Badui tadi bertanya yang kurang lebih artinya: "Mana diantara kalian yang bernama Muhammad?" Hal ini karena beliau tidak memiliki pakaian khusus yang membedakan dari para shahabat. Lihatlah bedanya dengan sayyid-sayyid syiah itu, mereka seolah-olah menjadi manusia khusus. Ya, memang khusus dikalangan mereka.
- Penulis sering melihat ada kain berwarna hijau dililitkan pada orang yang sakit, pada bagian yang sakit ataupun juga dililitkan di salah satu tempat tidur. Ternyata warna hijau bagi mereka memiliki makna tersendiri yang sepertinya sebagai salah satu cara tolak bala, jika pembaca melihat mereka sangat suka menggantungkan kain warna hijau ini pada mobil mereka, bukan sekedar hiasan, tapi mereka mempunyai keyakinan tersendiri.
- Berikut sebagian nama keluarga besar syi'ah di Kuwait: BEHBEHANI, mereka ini memiliki bisnis beraneka ragam mulai dari dealer mobil, pengadaan alat-alat kedokteran dan keperluan RS serta beberapa toko, mirip seperti orang-orang Cina di Indonesia. AL SHARRAF, juga bergelut di bidang bisnis seperti elektronik dan kelistrikan (seperti gambar di atas yang kami dapatkan di Tunis Street, Hawally, Kuwait). AL QALLAF, AL MUSAWI, DLL kebanyakan juga sebagai pegawai pemerintah, pedagang/bisnis dan karyawan di perkantoran.
- Orang-orang syi'ah di Kuwait adalah berasal dari Iran, menurut beberapa shahabat, tidak ada syi'ah dari kabilah orang Kuwait asli, tapi mereka adalah pendatang yang kemudian menetap sampai banyak yang mendapatkan kewarganegaraan Kuwait.
- Warna hitam akan mendominasi pada hari Asyura (10 Muharram) dan kata mereka dalam rangka berkabung atas terbunuhnya Hussein radhiyallohu 'anhu. Padahal menurut Rasululloh shalallohu 'alaihi wa sallam, cucu beliau itu adalah salah satu pemimpin bagi pemuda ahli surga, maka kenapa mereka harus berduka berlebihan sampai-sampai mengucurkan darah dengan dipamerkan, padahal yang mengalir hanyalah darah tepi dari vena yang mudah berhenti, coba kalau mereka berani, harusnya kucurkan darah mereka dari pembuluh arteri pasti akan lebih banyak dan jangan tanggung-tanggung jika perlu dari urat lehernya yang paling besar, tapi mana ada yang mau??? Anda tahu di mana para sayyid mereka saat peringatan As Syura' itu? Apakah mereka ikut bergabung dengan orang-orang yang berdarah-darah itu? Ternyata tidak! Mereka hanyalah menangis di masjid atau kalaupun keluar di kerumunan orang-orang yang berdarah-darah itu, mereka hanya akan menorehkan pisau atau pedang kepada para jama'ah atau anak-anaknya para jama'ah sebagai bentuk penghormatan atau tabarruk? Sementara mereka sendiri tidak berdarah-darah. Lihatlah betapa bodohnya, mau enaknya sendiri. Seharusnya para sayyid itulah yang paling banyak mengucurkan darah. Apakah ini juga kekhususan bagi mereka? Wallohu a'lam.
- Kebencian mereka kepada para shahabat Nabi tidak dapat dipungkiri. Banyak sekali ucapan-ucapan kotor sayyid-sayyid mereka bahkan selalu melaknati Abu Bakar dan Umar sampai-sampai dengan lancangnya ada salah seorang dari mereka yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah penghuni neraka Jahanam yang paling bawah, kemudian baru Iblis dan Setan di atasnya. Darimana dia mendapatkan berita tersebut kalau bukan dari setan?
- Saking bencinya mereka kepada dua shahabat nabi yang mulia ini, yakni Abu Bakar dan Umar, maka bisa dipastikan diantara keluarga atau keturunan mereka Anda tidak akan menemukan yang namanya Abu Bakar, Umar ataupun Usman. Bagaimana tidak, lha wong ketiga manusia ahli surga tersebut adalah musuh besar mereka, naudzubillah. Jika ada diantara kita yang bernama Abu Bakar, Umar atau Usman mereka sangat geram, hal ini terbukti saat perang di Irak, sampai sekarang ini. Ada berita yang menyebutkan bahwa Ahlus Sunnah disana yang bernama tersebut, terpaksa mengganti nama mereka demi keselamatan dari pembantaian.
- Di kalangan wanitanya kita tidak akan mendapati seorang pun yang bernama Aisyah, isteri tercinta Nabi Shalallohu 'alaihi wa sallam yang mereka tuduh telah berzina. Padahal Alloh sendiri langsung dari atas tujuh lapis langit yang mengkhabarkan bahwa berita dan tuduhan tersebut adalah bohong belaka. Kami mendapati kebanyakan para wanita mereka bernama: Maryam, Zainab dan Fatimah. Hanya 3 nama inilah yang terpopuler bagi mereka.
- Kami tidak pernah melihat mereka melakukan shalat sunnah rawatib, lha wong kalau shalat dijama' terus, tiap hari. Tapi, barangkali tidak ada juga shalat syi'ah rawatib bagi mereka, ya???
- Jika salah seorang dari mereka mati, maka saat membungkus mayatnya, para keluarga tidak akan membolehkan jika kedua tangan mayat tersebut disedekapkan.
- Walhamdulillah, pemerintah Kuwait telah memisahkan kuburan untuk orang-orang sunni dan syi'ah sehingga jika ada mayat yang akan dikuburkan, pada saat mengurus surat penguburan jenazah maka petugas Public Relation Officer (Humas) akan menanyakan: "(Jenazahnya) Sunni apa Syi'ah?" Hal ini penulis dengar dan menyaksikan langsung.
Beberapa waktu yang lalu kami mendapatkan khabar yang bisa dipercaya bahwa telah datang beberapa orang syi'ah dari Indonesia untuk memberikan pelajaran bagi para TKI terutama para pembantu yang bekerja pada orang syi'ah. Untuk menarik pesertanya, mereka melobi para majikan orang-orang syi'ah tersebut dan para TKW tadi diberikan imbalan uang sekitar 10 KD= Rp 350 ribu untuk mengikuti pengajian mereka. Perlu diketahui bahwa rata-rata gaji pembantu adalah sekitar 40-50 KD per bulan, maka uang 10 KD sama dengan gaji satu pekan, ini sangat menggiurkan bagi mereka. Tentu saja ada diantara mereka yang tidak tahu kalau pengajian itu pengajian syi'ah atau mungkin ada juga yang tertarik hanya sekedar agar mendapatkan uangnya saja. Ini sangat berbahaya bagi akidah para pembantu yang kebanyakannya sangat awam terhadap ilmu agama ini.
Maka dari itu, Kami sebagai saudara seiman mengingatkan para pembaca sekalian, jika ada salah satu anggota keluarga, teman, saudara atau tetangga Anda yang bekerja sebagai pembantu di Kuwait mohon untuk menasehati mereka agar waspada terhadap makar dan tipu daya serta bujukan orang-orang syi'ah.
Sangat disayangkan, Jumiyah Ihya' At Turots yang mengaku sebagai sunni bahkan salafi tetapi ada "main mata" -secara diam-diam yang walaupun akhirnya ketahuan juga- dengan sebagian orang-orang syi'ah. Maka, waspadalah!!!
Demikianlah sedikit yang dapat Kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wallohul Musta'an. (Abu Shofiyah)
15 Juni 2008
Jum'iyah Ihya' At Turots Kuwait Sekarang
Bismillah walhamdulillah.
Washalatu wassalamu 'ala rosulillah wa 'ala aalihi wa ashhabihi waman waalah.
Amma ba'du:
Berita terhangat dari Kuwait; Jum'iyah Ihya' At Turots Kuwait sekarang ini sedang dirudung lagi masalah yang sangat pelik padahal beberapa hari yang lalu sangat bergembira atas keberhasilan masuknya empat anggota At Turots ke Majelis Ummah/Parlemen Kuwait. Bahkan sebagaian anggota parlemen yang mengaku salafi tersebut sudah langsung mengkritik pemerintahan Kuwait secara terbuka yang diliput oleh media massa.
Lantas apa masalahnya sekarang?
Ternyata Pemerintah Amerika Serikat telah mengintai kegiatan aliran dana Jum'iyah Ihya' At Turots ini yang berada di wilayah AS dan hari Jum'at, 13 Juni 2008 baru-baru ini pemerintah AS telah membekukan aset At Turots khususnya di sana (yang notabene merupakan sumbangan kaum muslimin) karena tuduhan Jum'iyah ini telah memberikan bantuan dana kepada Jaringan Teroris Al Qaida. Tentu saja pihak At Turots langsung membantahnya dengan keras dan mereka berdalih hanya memberikan bantuan yang bersifat sosial kemanusiaan.
Saya jadi teringat ucapan Al Ustadz Muhammad As Sewed hafidzahulloh yang menyatakan bahwa sebagian dana dari At Turots Kuwait melalui Al Sofwah Jakarta telah mengalir ke Pondok Pesantren Ngruki Solo yang dipimpin Abu Bakar Ba'asyir itu, yakni berupa pembangunan gedung perpustakaan. Kisahnya hampir sama, yakni pihak Al Sofwah tadinya tidak mengaku membantu Pondok Ngruki selain sebatas memberi bantuan kitab saja, tapi kenyataannya sampai membuatkan gedung perpustakaan. Akhirnya ketahuan juga! Akankah hal ini terkuak kembali? Semoga kaum muslimin mendapatkan pelajaran berharga dan lebih berhati-hati.
Semoga bermanfaat.
