02 April 2008

Wasiat Nabawi yang Penting bagi Anak-Anak



Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari. Beliau berkata kepadaku, “Wahai anak, sesungguhnya aku akan ajari engkau beberapa kalimat:
1.
اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ،
“Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu”
Yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya, Allah akan menjaga dunia dan akhiratmu.

2.
اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدُهُ تُجَاهَكَ
“Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu”
Jagalah batasan-batasan dan hak-hak Allah. Engkau akan mendapati Allah memberikan taufiq kepadamu serta membantumu.

3.
إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta bantuan, minta bantuanlah kepada Allah”.
Maksudnya, jika engkau meminta bantuan dalam perkara dunia maupun akhirat, maka mintalah kepada Allah. Lebih-lebih dalam perkara yang tidak dimampui melainkan hanya oleh Allah saja, seperti menyembuhkan orang sakit, meminta rizki, maka ini adalah perkara yang khusus bagi Allah saja.
(Hal ini telah disebutkan oleh An-Nawawi dan Al-Haitami)

4.
وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ, وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ
“Ketahuilah, meskipun seluruh umat berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah. Dan jika mereka berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan”
Maksudnya adalah beriman kepada takdir yang telah Allah tulis terhadap manusia, baik maupun jeleknya.

5.
رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Pena-pena telah diangkat dan lembar-lembar telah kering”
(HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan shahih).
Maksudnya, tawakkal kepada Allah disertai dengan mengambil sebab, karena Rasulullah bersabda kepada pemilik unta, “Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah”. (Hadits hasan, riwayat At-Tirmidzi).

Pada riwayat selain At-Tirmidzi:
6. “Kenalilah Allah di masa lapang, maka Allah akan mengenalmu di masa sulit”.
Tunaikanlah hak-hak Allah dan hak-hak manusia di kala lapang, maka Allah akan menyelamatkanmu di waktu kesempitan.

7. “Ketahuilah bahwa apa yang (ditakdirkan) luput darimu tidak akan menimpamu dan apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan luput darimu”
Jika Allah menahan sesuatu darimu, maka tidak akan sampai padamu. Dan apabila Allah memberimu sesuatu, maka tidak akan ada yang bisa menahannya.

8. “Ketahuilah bahwa pertolongan menyertai kesabaran”
Pertolongan untuk menghadapi musuh dan terhadap diri sendiri itu sesuai dengan kesabaran.

9. “Sesungguhnya ada kelapangan bersama kesusahan”
Kesusahan yang menimpa seorang yang beriman akan disusul oleh kelapangan setelahnya.

10. “Dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”
(Dihasankan oleh pentahqiq Kitab Jami’ul Ushul dengan penguat-penguat hadits tersebut).
Kesukaran yang dirasakan oleh seorang muslim, maka akan datang setelahnya satu atau dua kemudahan.

Faedah Hadits
1. Cintanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak. Beliau memboncengkan Ibnu Abbas di belakang beliau. Beliau juga memanggil Ibnu Abbas dengan ucapan, “Wahai anak” agar Ibnu Abbas memperhatikan apa yang beliau ucapkan.

2. Memerintahkan anak-anak untuk taat kepada Allah dan menjauh dari maksiat kepada-Nya serta membawa kebahagiaan kepada mereka di dunia dan akhirat.

3. Allah akan memenangkan orang yang beriman di saat sempit jika mereka menunaikan hak Allah dan manusia di masa lapang, sehat dan kaya.

4. Menanamkan kepada jiwa anak-anak aqidah tauhid dengan meminta dan beristi’anah (meminta bantuan-pent) kepada Allah ta’ala semata. Ini merupakan kewajiban orang tua dan pendidik.

5. Menanamkan kepada anak aqidah iman kepada taqdir, yang baik maupun yang jelek dan ini merupakan rukun iman.

6. Mendidik anak agar optimis dalam menghadapi hidup mereka dengan keberanian dan penuh harapan supaya mereka menjadi sosok-sosok yang bermanfaat bagi umat.
“Ketahuilah bahwa pertolongan menyertai kesabaran, sesungguhnya ada kelapangan bersama kesusahan dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”

(Dinukil untuk http://ulamasunnah.wordpress.com dari buku Bagaimana Mendidik Putra-Putri Kita karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penerjemah: Abu Umar Al Bankawy, muroja’ah: Al Ustadz Ali Basuki, Lc)

31 Maret 2008

BEDA SALAFI DENGAN HIZBI : Memang BEDA! Kenapa SAMA?!


Alhamdulillah Pustaka Ibnu Abbas Makassar dan Penerbit tooBAGUS Bandung telah menerbitkan buku Beda Salafi dengan Hizbi yang merupakan sebuah bantahan ilmiah terhadap buku Beda Salaf dengan Salafi karangan Mut’ab bin Suryan Al-’Ashimi. Ringkasan buku ini bisa anda baca di www.almakassari.com atau bisa langsung klik disini. Berikut ini adalah detail buku BEDA SALAFI DENGAN HIZBI :

Judul :
BEDA SALAFI DENGAN HIZBI (Memang Beda, Kenapa Sama?)
Penulis : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Atsari
Muroja’ah : Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari
Tebal : 146 Halaman; Ukuran : 14 cm x 21 cm; Cover : Doff + Emboss
Penerbit : tooBAGUS Publishing (Bekerjasama dengan Pustaka Ibnu Abbas Makassar)


26 Maret 2008

Sifat Kedua Tangan Allah Ta’ala

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafidzahullah

Keimanan terhadap penetapan adanya Tangan bagi Allah merupakan keyakinan Ahlus Sunnah wal jama’ah , sebagaimana telah kami jelaskan pada edisi lalu (baca: Allah Mempunyai Tangan -red). Keyakinan ini makin jelas dan tegas karena Al-Qur’an dan as-Sunnah telah menyebutkan adanya sifat Tangan bagi Allah secara terperinci dan disebutkan dengan kanan.

KEDUA TANGAN ALLAH ITU KANAN

Allah سبحانه وتعالى berfirman (yang artinya):Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.(az-Zumar: 67)

Demikian pula dalam firmanNya (yang artinya):Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan tangan kanan. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. (al-Haaqqah: 44-46)

Pada kedua ayat di atas Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tangan dengan tangan kanan. Pada surat Az-Zumar Allah berfirman (yang artinya): “Dan langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya”. Sedangkan dalam surat al-Haqqah dikatakan (yang artinya): “Aku ambil dengan dengan tangan kanan”.

Dalam tafsir ayat az-Zumar ayat 67 ini, disebutkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (yang artinya): “Allah Tabaraka wa ta’ala menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanannya, kemudian berkata “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia?” (HR. Bukhari-Muslim).

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Umar رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (yang artinya): Allah Azza wa Jalla menggulung langit pada hari kiamat dan menggenggam-nya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata: “Aku adalah Raja, mana orang-orang yang sombong?” Kemudian menggulung bumi-bumi dan menggenggamnya dengan tangannya yang lain seraya berkata: “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia, mana orang-orang yang sombong?” (HR. Bukhari Muslim)

Perlu diketahui, dalam hadits yang kedua ini disebutkan “tangan yang lain”, ini yang lebih shahih, sedangkan dalam lafadh lainnya disebutkan “dengan tangan kirinya”. Berkata Baihaqi dalam Asma’ wa Sifat: “Demikianlah diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Bakar ibnu Abi Syaibah, sedangkan sebutan “tangan kiri” disebutkan secara menyendiri oleh Umar Ibnu Hamzah dari Salim. Padahal telah diriwayatkan hadits yang sama oleh Nafi’ dan Ubaidullah Ibnu Muqsim dari Ibnu Umar, keduanya tidak menyebutkan kalimat “kiri”. Demikian pula telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan lain-lainnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم, semuanya tidak ada yang menyebutkan “tangan kiri”. (Lihat Asma’ wa Sifat, Baihaqi, hal. 139-140)

Apalagi telah diriwayatkan dengan shahih bahwa kedua tangan Allah adalah kanan, sebagaimana dalam sabdanya (yang artinya):Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya dari sisi kanan Allah Azza wa Jalla. Dan Kedua Tangan Allah adalah Kanan … (HR. Muslim)

Yang demikian karena tangan Allah keduanya Maha Sempurna, tidak sama dengan tangan mahlukNya. Sedangkan istilah kiri mengandung makna kekurangan dan kelemahan pada mahluk, maka tidak layak disebutkan untuk tangan Allah yang Maha Sempurna.

JARI-JEMARI ALLAH


Diriwayatkan dari ‘Amr bin Ash, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (yang artinya): Sesungguhnya hati Bani Adam seluruhnya berada di antara dua jari dari jari ar-Rahman (Allah) seperti hati yang satu. Allah memalingkannya sekehendaknya. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah صلى الله عليه وسلم membenarkan perkataan seorang Rahib Yahudi ketika menyebutkan jari-jemari bagi Allah, seperti dalam riwayat dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata: Seorang pendeta datang berjumpa Nabi صلى الله عليه وسلم lalu berkata: Wahai Muhammad atau Wahai Abu al-Qasim! Pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى memegang langit, bumi, gunung-gunung, pohon-pohon, air, tanah dan semua makhluk dengan jari-jemariNya. Kemudian Dia menggoyangkannya sambil berfirman: “Akulah Raja, Akulah Raja”. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم tertawa karena kagum mendengar kata-kata pendeta tersebut sambil membenarkannya. Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya): Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (HR. Bukhari Muslim)

Dan dalam riwayat lain: Datang seorang rahib dari Yahudi dan berkata: “Allah meletakkan langit-langit di jari-Nya pada hari kiamat”, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun terkagum-kagum membenarkan berita tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)

TELAPAK TANGAN ALLAH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (yang artinya): Tidaklah seseorang bershadaqah dengan shadaqah yang baik –dan Allah tidak menerima kecuali yang baik—kecuali Allah yang Maha Rahman akan mengambilnya dengan Tangan kanan-Nya, walaupun sebuah kurma, Allah akan membesarkannya di Telapak Tangan Allah yang Maha Rahman hingga menjadi lebih besar dari gunung sebagaimana salah seorang kalian membesarkan anak kambing atau anak unta. (HR. Bukhari dan Muslim)

LENGAN ALLAH

Didalam riwayat yang agak panjang, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (yang artinya): Apakah unta-unta kaummu yang lahir dalam keadaan sehat dan utuh telinga-telinganya kemudian kamu dengan sengaja mengambil pisau dan memotong telinga-telinganya dan kamu katakan unta-unta ini merdeka?!. Dan kamu robek telinga-telinganya atau kamu cacati kulit-kulitnya, kemudian kamu katakan unta-unta ini haram? Kemudian kamu haramkan untuk dirimu dan keluargamu?! Dia menjawab: “Ya”. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sungguh seluruh apa yang diberikan Allah kepadamu (dari binatang ternak itu) adalah halal. Ingat Lengan Allah lebih kuat dari lenganmu dan Pisau Allah lebih tajam dari pisaumu.” (HR. Ahmad, Hakim, Abu Dawud, Baihaqi, Thabrani dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata: “Hadits Hasan Shahih). Lihat Tahqiq Kitab Asma’ wa Sifat oleh Al-Baihaqi, hal. 170).

SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP RIWAYAT-RIWAYAT DI ATAS


Berkata Sufyan Ibnu Uyainah: Setiap apa yang Allah sifati diri-Nya dalam kitab-Nya maka tafsirnya adalah membacanya dan diam. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 248)

Berkata Ibnu Syihab Az-Zuhri: Allah yang menerangkan, rasul yang menyampaikan dan atas kita untuk menerima. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 249)

Berkata Wahb bin Munabbih ketika ditanya oleh seorang tokoh sesat Ja’d bin Dirham tentang asma’ wa sifat: Celaka engkau wahai Ja’d karena permasalahan ini. Sungguh aku menduga engkau akan binasa. Wahai Ja’d, kalau saja Allah tidak mengkabarkan dalam kitab-Nya bahwa dia memiliki tangan, mata atau wajah, tentu kamipun tidak akan mengatakannya.Bertakwalah engkau kepada Allah!” (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 190)

Berkata al-Walid ibnu Muslim: “Aku telah bertanya kepada AlAuza’I, Sufyan Ats-tsauri, Malik bin Anas tentang hadits-hadits sifat dan ru’yah (tentang dilihatnya Allah pada hari kiamat), mereka semua menjawab: Langsungkanlah, sebagaimana adanya tanpa mempertanyakan seperti apa”. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 249)

Berkata Imam Malik bin Anas: “Berhati-hatilah kalian terhadap kebid’ahan.” Beliau ditanya: “Apakah bid’ah itu”. Beliau menjawab: “Ahlul bid’ah adalah mereka yang membicarakan tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, kalam Allah, Ilmu Allah dan kekuasan-Nya tanpa ilmu. Mereka tidak mau diam sebagaimana diamnya para shahabat dan tabi’in terhadap masalah tersebut”. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 244)

Berkata Imam Al-Barbahari: “Tidak boleh berbicara tentang Allah kecuali dengan apa Allah sifatkan diriNya dengannya dalam al-Qur’an dan apa yang diterangkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada para shahabatnya”. Ia juga berkata: “Tidak berbicara tentang sifat-sifat Rabb dengan pertanyaan: “Bagaimana?” atau “mengapa?”, kecuali orang yang ragu terhadap Allah tabaraka wa ta’ala”. (Syarhus Sunnah, hal. 70)

Sumber: www.salafy.or.id
Judul Asli: “Mengimani Sifat Kedua Tangan Allah Ta’ala”

25 Maret 2008

Allah Memiliki Tangan

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed hafidzahullah

Pengenalan kepada Allah (ma’rifatullah) merupakan prinsip aqidah yang paling penting yang akan mempengaruhi seluruh amalan, ucapan dan perbuatan seseorang. Oleh karena itu mengenali Allah dan sifat-sifatNya dari sumber yang pasti yaitu Al Qur’an dan hadits yang shahih merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Dalam masalah ini, manusia telah terpecah menjadi sekian aliran dan kelompok-kelompok yang menyimpang. Diantaranya:

1. Ahlu ta’thil yaitu para penolak sifat Allah, seperti mu’tazilah dan jahmiyah. Mereka menolak adanya seluruh sifat-sifat Allah dengan alasan agar tidak sama dengan makhlukNya.
2. Ahlu tasybih yaitu kelompok yang berpendapat sebaliknya. Mereka menganggap semua sifat-sifat Allah sama dengan makhluk-Nya.
3. Ahlu ta’wil yaitu para pentakwil sifat-sifat Allah seperti Asy’ariyah. Mereka menyelewengkan makna dari sifat-sifat Allah tersebut kepada makna-makna lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan lafadnya.
4. Ahlu tafwidh yaitu kelompok yang tidak mau memahami dan menterjemahkan makna kalimat-kalimat tersebut. Mereka menyatakan bahwa kita serahkan saja maknanya kepada Allah.

Sebagai contoh ketika disebutkan dalam al-Qur’an bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki tangan dalam ayat Allah (yang artinya): "Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada (Adam) yang telah Kuciptakan dengan Kedua TanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?" (QS. Shad: 75)

Sebagian kelompok mengira bahwa menetapkan adanya tangan bagi Allah merupakan penyerupaan Allah dengan makhlukNya, maka merekapun menolak adanya tangan pada ayat ini. Sebagian ada yang menolak dengan terang-terangan, ada pula yang menyatakan bahwa maknanya tidak diketahui. Dan sebagian lagi dengan menyelewengkan artinya dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat di atas bukan tangan tetapi “kekuatan (kekuasaan -red)" atau “kenikmatan”. Adapun golongan yang lain, mereka menetapkan sifat tangan ini, namun dengan menyamakan dengan tangan makhluk-Nya.

Mereka yang menolak bahwa Allah mempunyai Tangan, berarti ia menentang Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahihah yang telah dengan tegas menetapkan sifat Tangan bagi Allah.

Mereka yang menyamakan Tangan Allah dengan tangan makhluk-Nya, berarti menentang ayat (yang artinya): Tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (asy-Syura: 11)

Dan mereka yang tidak mau memahami makna lafadh “Yad” dari ayat tersebut berarti ia adalah orang yang mengajak kepada kebodohan, sehingga Ibnu Taimiyah menggelari ahlu tafwidh dengan ahlu tajhil (golongan yang mengajak kepada kebodohan). Karena Allah menurunkan al-Qur’an dengan bahasa arab untuk dipahami maknanya.
"Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memahaminya." (az-Zukhruf: 3)

Adapun mereka yang menyatakan penolakan tersebut dengan ta’wil tidak memiliki dalil dan bukti-bukti yang jelas. Siapa yang menerangkan kepada mereka bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah “kekuatan” atau “kenikmatan”. Padahal tidak ada satu ulama pun menyatakan demikian sejak zaman shahabat, tabi’in, dan pengikut mereka dari ulama Ahlus Sunnah wal jama’ah sampai hari ini. Ucapan seperti itu bermula dari kaum mu’tazilah, kemudian diikuti oleh Asy’ariyah.

Adapun Ahlus Sunnah, sejak zaman para Shahabat, Tabi’in, Atbau’t Tabi’in dan diikuti oleh para ulama ahlul hadits sampai hari ini, mereka mengimani dan meyakini adanya nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah, dengan menerima makna lafadz secara dhahirnya, tanpa tahrif (penyimpangan maknanya), tanpa ta’thil (penolakan terhadap sebagian maupun keseluruhannya), tanpa tafwidh (tidak mau menerjemahkannya secara dhahir dengan alasan menyerahkannya kepada Allah), tanpa tasybih atau tamtsil, yaitu tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan tanpa Takyif, yaitu tidak menanyakan seperti apa dan bagaimananya.

Berkata Imam Abu Utsman ash-Shabuni: “Para ulama ashhabul hadits mempersaksikan dan meyakini bahwa Allah menciptakan Adam dengan Kedua Tangan-Nya sebagaimana disebutkan dalam ucapan-Nya (yang artinya):"Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan Kedua Tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". (Shad: 75)

Mereka tidak menyelewengkan makna ayat ini kepada makna-makna lain. Tidak menarik maknanya kepada makna “dua kenikmatan”, atau “dua kekuatan” seperti penyelewengan yang dilakukan mu’tazilah dan jahmiyyah –semoga Allah membinasakan keduanya-. Ashhabul hadits tidak mempertanyakan seperti apa bentuk tangan Allah. Tidak pula menyerupakan dua tangan Allah dengan tangan makhluk-makhluk-Nya, seperti penyerupaan yang dilakukan oleh golongan musyabihah –semoga Allah menghinakan mereka-. (Aqidatus Salaf AshHabul Hadits, hal. 161).

Dengan demikian Ahlus Sunnah wal jama’ah seluruhnya mengimani dan meyakini bahwa Allah memiliki tangan dan menciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya. Mereka tidak menolak sifat tersebut, tidak menolak berita tersebut, tidak menyelewengkan maknanya kepada makna yang lain dan tidak pula mempertanyakan seperti apa bentuk tangan Allah? Yang pasti, mereka meyakini bahwa tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk-Nya berdasarkan firman Allah (yang artinya):"Tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Ia Maha Mendengar lagi maha Melihat". (asy-Syura: 11)

DALIL-DALIL TENTANG PENETAPAN ADANYA TANGAN BAGI ALLAH


Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam ayatnya (yang artinya): "Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), bahkan Kedua Tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki…." (al-Maidah: 64)

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه tentang hadits syafaat, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:" … Mereka menemui Adam dan berkata: “Wahai Adam engkau adalah Bapaknya manusia, Allah telah menciptakan engkau dengan Tangan-Nya, meniupkan ruh dalam dirimu, dan Allah telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, mintakanlah syafaat untuk kami kepada Rabbmu…" (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (yang artinya): "Allah سبحانه وتعالى berfirman: “Anak Adam selalu mencaci-maki masa, padahal Akulah masa. Siang dan malam berada di Tangan-Ku”. (HR. Bukhari Muslim)

Dari Musa al-‘Asyari رضي الله عنه, berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم (yang artinya), "Sesungguhnya Allah ta’ala membentangkan Tangannya pada malam hari untuk menerima taubat sampai siang harinya, dan dari siang hari sampai malam harinya hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya". (HR. Muslim)

Disebutkan pula dalam riwayat do’a istiftah, di antaranya beliau صلى الله عليه وسلم mengucapkan (yang artinya):"Aku penuhi panggilan-Mu dengan kerelaan. Dan kebaikan seluruhnya di Tangan-Mu…" (HR. Muslim)

Juga amat sering kita mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersumpah dengan mengatakan (yang artinya): "Demi Allah yang jiwaku ada di Tangan-Nya".

Bahkan lebih tegas lagi disebutkan bahwa Tangan Allah keduanya adalah Kanan, yang berarti tidak mungkin dapat dita’wilkan pada “kekuatan” atau “kenikmatan”, karena keduanya tidak bisa disebut dengan “kanan”.

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Amr رضي الله عنه Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda (yang artinya): "Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya dari sisi kanan Allah azza wa jalla. Dan kedua tangan Allah adalah kanan …" (HR. Muslim)

Demikianlah sikap ahlul sunnah dalam mengimani, meyakini dan menetapkan bahwa Allah mempunyai tangan dengan tetap meyakini bahwa tangan Allah tidak sama dengan tangan mahluk-Nya. Hal ini pulalah yang semestinya harus menjadi keimanan bagi setiap muslim, agar menjadi benar pula aqidah mereka. Wallahu a’lam.
Sumber: www.salafy.or.id
Judul asli: "Mengimani bahwa Allah Memiliki Tangan"

Hizbiyah, Jauh Lebih Berbahaya daripada Flu Burung



Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh..
Ini ada sedikit "oleh-oleh" dari muhadharah Syeikh Muhammad Al Anjary hafidzahulloh saat Kajian Rutin Syarhus Sunnah Al Barbahari di Khaldiya, Kuwait (dengan tambahan redaksional):

Bahwa Ahlus Sunnah dari dulu hingga sekarang tidak akan tinggal diam untuk menjelaskan AL HAQ dan lawannya yakni AL BATHIL sehingga ummat Islam akan dapat membedakan keduanya (mendapatkan AL FURQAN (pembeda/pemisah) dan kejelasan sehingga tidak samar lagi), walaupun banyak orang yang tidak suka dan merasa risih dengan gencarnya ucapan dan tulisan para ulama ahli sunnah.

Beliau memberikan contoh: Pada zaman sekarang ini, berapa banyak orang (ilmuwan, profesor, dokter, mahasiswa, pelajar, dll, pen) dan media massa seperti: majalah, koran, TV, radio yang menulis dan memberitakan tentang FLU BURUNG karena begitu bahayanya terhadap kesehatan manusia SECARA FISIK/BADAN. Kita TIDAK PERNAH mendengar ada orang yang memprotes: “Sudahlah…sudah banyak orang yang menulis tentang flu burung ini….Kau tidak usah ribut-ribut membicarakan flu burung. Sudah cukup!” Tidak ada khan yang protes seperti itu? Ya, karena memang hampir semuanya mengetahui betapa sangat ganas dan mematikannya penyakit tersebut.
Tetapi pada saat ada seorang ahli sunnah (dari kalangan ULAMA, USTADZ DAN THALIBUL ILMI, pent) yang kembali memperingatkan umat dari bahaya HIZBIYYAH karena mereka tahu berdasarkan dalil yang jelas dan betapa sayangnya mereka kepada kaum muslimin agar selamat, serta merta banyak orang yang merasa jengkel dan keberatan dengan hal ini.
Sering orang berkata, “Orang itu di majelisnya membahas itu lagi…itu lagi, nyinggung IM lagi, Tabligh lagi, At Turots lagi…apa tidak ada topik yang lain selain itu?”
Demikianlah keadaan mayoritas manusia yang tidak seimbang dalam menilai dan bersikap karena ketidaksadaran DAN KETIDAKTAHUAN mereka akan BAHAYAnya HIZBIYYAH. Padahal penyakit ini sangat bahaya karena menyerang PEMIKIRAN/MANHAJ seorang muslim, JAUH LEBIH BERBAHAYA daripada FLU BURUNG.
Maka, walaupun banyak yang tidak setuju, risih dan mencibir, Ahlu Sunnah akan terus senantiasa memperingatkan umat dari ajaran/pemikiran yang menyimpang dari al haq.